Tampilkan postingan dengan label Muhammadiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Muhammadiyah. Tampilkan semua postingan

Minggu, 16 Oktober 2011

Din Syamsuddin: Reshuffle Basa-Basi Politik!


Reshuffle yang dilakukan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dinilai hanya sebagai pencitraan.

Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin mengatakan, bongkar pasang menteri seharusnya dilakukan SBY yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja para menteri dan bukan sebagai bentuk keseimbangan politis atau politik transaksional antara presiden dan partai peserta koalisi,

DIkatakan Din, perombakan kabinet hanya mengahasilkan menteri yang tidak cakap dalam meningkatkan akselarasi kinerja dan proses perombakan juga dinilai basa-basi.

Tidak hanya itu saja, pemanggilan untuk fit dan proper test menurut Din juga tak lebih dari sebuah drama atau reality show seperti yang pernah dilakukan sebelumnya bila tak ada peningkatan kinerja.

Dan mengenai jabatan wakil Menteri dinilai juga sebagai upaya pemborosan dan hanya membebani APBN. Disamping itu hanya akan terjai tumpang tindih jika tidak dibarengi dengan pengaturan kewenangan yang jelas.

Senin, 29 Agustus 2011

PP Muhammadiyah Keluarkan Instruksi Pelaksanaan Sholat dan Maklumat Jelang Idul Fitri

Menjelang hari raya Idul Fitri 1432H, Pimpinan Pusat Muhammadiyah mengeluarkan Maklumat menjelang Idul Fitri dan sekaligus surat Instruksi pelaksanaan sholat Idul Fitri. Sesuai dengan Maklumat PP Muhammadiyah sebelumnya , mengenai penetapan awal Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijah 1432 H, 1 Syawal 1432H jatuh pada tanggal Selasa Kliwon 30 Agustus 2011.



Dalam Maklumat tertanggal 27 Agustus 2011, yang ditandatangani oleh ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekretaris Umum Agung Danarto, berisikan mengenai penjelasan dan hikmah puasa serta Idul Fitri. Dalam Maklumat tersebut mengingatkan seluruh kaum muslimin hendaknya dapat menjadikan ‘Idul Fitri tahun ini sebagai momentum untuk lebih mempererat tali silaturrahim dan persaudaraan serta mengembangkan rasa kasih sayang, sehingga dapat meningkatkan sikap solidaritas sosial dan saling mengasihi. Sementara itu mengenai kemungkinan perbedaan penetapan hari raya Idul Fitri 1432 H, PP Muhammadiyah menghimbau semua pihak untuk saling menghormati dan mengembangkan tasamuh (toleransi) karena perbedaan tersebut didasarkan pada keyakinan agama serta memperolah jaminan konstitusi.



Sementara itu dalam Surat Instruksi yang dikeluarkan bersamaan dengan Maklumat menjelang Idul Fitri, Pimpinan Pusat Muhammadiyah menginstruksikan Segenap Pimpinan dan warga Muhammadiyah hendaknya berpegang teguh kepada hasil hisab Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Berdasarkan hisab hakiki wujudul hilal yang dipedomani dan dilakukan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, bahwa Ijtimak menjelang Syawwal 1432 H terjadi pada hari Senin 29 Agustus 2011 M pukul 10:05:16 WIB. Tinggi hilal pada saat Matahari terbenam di Yogyakarta (f= -07°48¢dan l= 110°21¢BT) adalah ­+01°49¢57²(hilal sudah wujud) dan di seluruh wilayah Indonesia pada saat Matahari terbenam hilal sudah berada di atas ufuk. Berdasarkan hasil hisab tersebut maka Pimpinan Pusat Muhammadiyah menetapkanTanggal1 Syawwal 1432 H jatuh pada hari Selasa 30 Agustus 2011 M.



Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga menginstruksikan agar segenap Pimpinan dan warga Muhammadiyah agar mempersiapkan penyelenggaraan shalat ’Idul Fitri dengan baik, mempublikasikan secara luas serta melakukan kordinasi dan kerjasama dengan kalangan umat yang berhari raya pada hari yang sama, sehingga penyelenggaraan shalat ’Id dapat berjalan dengan tertib, lancar dan penuh syi’ar.



Berikut link download lengkap isi Surat Instruksi dan Maklumat Jelang Syawal 1432 H :

1. Maklumat

2. Surat Instruksi

Penjelasan Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah Soal penetapan Idul Fitri besok



Terkait Adanya pertanyaan di kalangan beberapa orang anggota masyarakat tentang lebaran besok Selasa di mana puasanya dengan demikian hanya 29 hari, apakah itu sah? Jawabannya adalah bahwa Nabi saw dalam beberapa hadisnya menyatakan bahwa umur bulan itu 29 hari atau terkadang 30 hari. Jadi orang yang berpuasa 29 hari dan berlebaran besok adalah sah karena sudah berpuasa selama satu bulan. Secara astronomis, pada hari ini, Senin 29 Agustus 2011, Bulan di langit telah berkonjungsi (ijtimak), yaitu telah mengitari bumi satu putaran penuh, pada pukul 10:05 tadi pagi. Dengan demikian bulan Ramadan telah berusia satu bulan. Dalam hadis-hadis Nabi saw, antara lain bersumber dari Abu Hurairah dan Aisyah, dinyatakan bahwa Nabi saw lebih banyak puasa Ramadan 29 hari daripada puasa 30 hari. Menurut penyelidikan Ibnu Hajar, dari 9 kali Ramadan yang dialami Nabi saw, hanya dua kali saja beliau puasa Ramadan 30 hari. Selebihnya, yakni tujuh kali, beliau puasa Ramadan 29 hari.

Mengenai dasar penetapan Idulfitri jatuh Selasa 30 Agustus 2011 adalah hisab hakiki wujudul hilal dengan kriteria (1) Bulan di langit untuk bulan Ramadan telah genap memutari Bumi satu putaran pada jam 10:05 Senin hari ini, (2) genapnya satu putaran itu tercapai sebelum Matahari hari ini terbenam, dan (3) saat Matahari hari ini nanti sore terbenam, Bulan positif di atas ufuk. Jadi dengan demikian, kriteria memasuki bulan baru telah terpenuhi. Kriteria ini tidak berdasarkan konsep penampakan. Kriteria ini adalah kriteria memasuki bulan baru tanpa dikaitkan dengan terlihatnya hilal, melainkan berdasarkan hisab terhadap posisi geometris benda langit tertentu. Kriteria ini menetapkan masuknya bulan baru dengan terpenuhinya parameter astronomis tertentu, yaitu tiga parameter yang disebutkan tadi.

Mengapa menggunakan hisab, alasannya adalah:

1. Hisab lebih memberikan kepastian dan bisa menghitung tanggal jauh hari ke depan,
2. Hisab mempunyai peluang dapat menyatukan penanggalan, yang tidak mungkin dilakukan dengan rukyat. Dalam Konferensi Pakar II yang diselenggarakan oleh ISESCO tahun 2008 telah ditegaskan bahwa mustahil menyatukan sistem penanggalan umat Islam kecuali dengan menggunakan hisab.

Di pihak lain, rukyat mempunyai beberapa problem:

1. Tidak dapat memastikan tanggal ke depan karena tanggal baru bisa diketahui melalui rukyat pada h-1 (sehari sebelum bulan baru),
2. Rukyat tidak dapat menyatukan tanggal termasuk menyatukan hari puasa Arafah, dan justeru sebaliknya rukyat mengharuskan tanggal di muka bumi ini berbeda karena garis kurve rukyat di atas muka bumi akan selalu membelah muka bumi antara yang dapat merukyat dan yang tidak dapat merukyat,
3. Faktor yang mempengaruhi rukyat terlalu banyak, yaitu (1) faktor geometris (posisi Bulan, Matahari dan Bumi), (2) faktor atmosferik, yaitu keadaan cuaca dan atmosfir, (3) faktor fisiologis, yaitu kemampuan mata manusia untuk menangkap pantulan sinar dari permukaan bulan, (4) faktor psikologis, yaitu keinginan kuat untuk dapat melihat hilal sering mendorong terjadinya halusinasi sehingga sering terjadi klaim bahwa hilal telah terlihat padahal menurut kriteria ilmiah, bahkan dengan teropong canggih, hilal masih mustahil terlihat.

Memang perlu dilakukan upaya untuk menyatukan sistem penanggalan umat Islam agar tidak lagi terjadi perbedaan-perbedaan yang memilukan ini. Untuk itu kita harus berani beralih dari rukyat (termasuk rukyat yang dihisab) kepada hisab. Di zaman Nabi saw rukyat memang tidak menimbulkan masalah karena umat Islam hanya menghuni Jazirah Arab saja dan belum ada orang Islam di luar jazirah Arab tersebut. Sehingga bila bulan terlihat atau tidak terlihat di jazirah Arab itu, tidak ada masalah dengan umat Islam di daerah lain lantaran di daerah itu belum ada umat Islam. Berbeda halnya dengan zaman sekarang, di mana umat Islam telah menghuni seluruh penjuru bumi yang bulat ini. Apabila di suatu tempat hilal terlihat, maka mungkin sekali tidak terlihat di daerah lain. Karena tampakan hilal di atas muka bumi terbatas dan tidak meliputi seluruh muka bumi. Rukyat akan menimbulkan problem bila terjadi pada bulan Zulhijah tahun tertentu. Di Mekah terlihat, di Indonesia tidak terlihat, sehingga timbul masalah puasa Arafah.

Jadi oleh karena itu penyatuan itu perlu, dan penyatuan itu harus bersifat lintas negara karena adanya problem puasa Arafah. Artinya siapapun yang mencoba mengusulkan suatu sistem kalender pemersatu, maka kalender itu harus mampu menyatukan jatuhnya hari Arafah antara Mekah dan kawasan lain dunia agar puasa Arafah dapat dijatuhkan pada hari yang sama. Ini adalah tantangan para astronom Indonesia. Kita menyayangkan belum banyak yang mencoba memberikan perhatian terhadap penyatuan secara lintas negara ini. Perdebatan yang terjadi baru hanya soal kriteria awal bulan, yang itu hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan masalah penyatuan kalender.

Sementara kita masih belum mampu menyatuakan penanggalan hijriah, maka bilamana terjadi perbedaan kita hendaknya mempunyai toleransi yang besar satu terhadap yang lain dan saling menghormati. Sembari kita terus berusaha mengupayakan penyatuan itu.

Muhammadiyah Lebaran Tetap Besok


Dalam sidang Isbat yang diselenggarakan Kementerian Agama, sebagian besar perwakilan ormas Islam yang hadir menyatakan setuju bila hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Rabu (31/8/2011).

Walaupun begitu, perwakilan Muhammadiyah yang turut hadir dalam sidang tersebut tetap meminta izin kepada Menteri Agama Suryadharma Ali untuk merayakan lebaran pada hari Selasa (30/8/2011) besok.

"Mohon izin pak Menteri, kami dari Muhammadiyah merayakan lebaran pada esok hari," ujar Ketua PP Muhammadiyah, Fatah Wibisono, Senin (29/8/2011) yang langsung disambut riuh para undangan. Usai sidang Isbat, Fatah menjelaskan alasan Muhammadiyah tetap memutuskan 1 Syawal 1432 H jatuh pada hari Selasa (30/8/2011) karena berdasarkan hadist Ibnu Umar dimana Rasulullah berpesan bila hilal tak dapat dilihat maka opsi yang diberikan adalah dengan memprediksinya.

"Nabi membolehkan kita membuat prediksi kalau hilal telah wujud. Apalagi ini dari tim kita, yakni tim FPI (Front Pembela Islam) telah melaporkan sudah melihat hilal. Dulu di zaman Nabi, saat Nabi mendengar ada laporan sudah melihat hilal, Nabi pun tidak menolak," terang Fatah.

Lebih lanjut Fatah menjelaskan bahwa tim FPI yang melihat hilal sudah disumpah oleh Ketua Syuriah PWNU DKI, sehingga laporan soal melihat hilal tersebut dapat dipertanggungjawabkan. "Kalau hilal sudah kembali ke titik awal seperti awal muncul, maka itu sudah tanggal 1 Syawal. Semua ahli astronomi pun mengakui bahwa hilal pada malam ini sudah diatas ufuk. Karena itu besok sudah tanggal 1 Syawal, bagi pandangan Muhammadiyah," imbuhnya.

Muhammadiyah Tetapkan Hari Raya Lebaran 30 Agustus 2011

Keputusan itu berdasarkan pada metode hisab hakiki atau perhitungan yang dilakukan oleh majelis tarjih. ”Muhammadiyah Lebaran tanggal 30 Agustus,” kata dia ketika dihubungi Tempo, Sabtu, 27 Agustus 2011.

Hasil perhitungan itu menunjukkan bahwa ijtimak akhir Ramadan 1432 Hijriah akan terjadi pada 29 Agustus 2011 yang bertepatan dengan 29 Ramadan 1432 H antara 10.04.03 WIB sampai pukul 10.05.16 WIB.

Muhammadiyah Tetapkan Hari Raya Lebaran 30 Agustus 2011Pada saat itu, matahari terbenam pada pukul 17.30.53 WIB dengan "hilal" (rembulan usia muda sebagai pertanda awal bulan/kalender) akan terlihat pada ketinggian 1 derajat 55 menit 11 detik hingga 2 derajat.

"Dengan tampaknya hilal ini, kesimpulannya pada hari Selasa tanggal 30 Agustus 2011 itu sudah merupakan awal Syawal untuk mengakhiri puasa Ramadan," kata dia.

Menurut Din, tahun ini Lebaran berpotensi tidak sama. Biasanya, perbedaan Lebaran terjadi sekali dalam empat tahun. Namun ia meminta semua pihak tidak membesar-besarkan masalah tersebut.

Setiap organisasi keagamaan memiliki keyakinan dalil dan hadis sendiri-sendiri. ”Artinya ada alasan-alasan kenapa berbeda. Dan itu sudah biasa,” kata dia.

Dia juga meminta pemerintah mengayomi semua organisasi yang memiliki perbedaan pandangan tersebut. Tidak boleh memihak salah satu karena mereka memiliki alasan yang berbeda. ”Pemerintah tidak boleh berpihak,” ujarnya.