Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Rabu, 05 Oktober 2011

Bermimpi Ke Surga


Aku bermimpi suatu hari aku pergi ke surga dan seorang malaikat menemaniku
serta menunjukkan keadaan di surga.

Kami berjalan
memasuki suatu ruang kerja yang penuh dengan para malaikat.
Malaikat yang mengantarku berhenti di depan
ruang kerja pertama dan berkata,"

Ini adalah Seksi
Penerimaan.
Disini, semua permintaan
yang ditujukan pada Allah, diterima".


Aku melihat-lihat sekeliling tempat ini dan aku dapati tempat ini begitu sibuk dengan begitu banyak malaikat yang memilah-milah seluruh permohonan yang tertulis pada kertas dari manusia di seluruh
dunia.

Kemudian,....
aku dan malaikat-ku berjalan lagi melalui
koridor yang panjang.

lalu sampailah kami pada ruang kerja kedua.

Malaikat-ku berkata,
"Ini adalah Seksi Pengepakan
dan Pengiriman.
Disini, kemuliaan dan rahmat
yang diminta manusia diproses
dan dikirim ke
manusia-manusia yang masih
hidup yang memintanya

Aku perhatikan lagi betapa sibuknya ruang kerja itu.
Ada banyak malaikat
yang bekerja begitu keras karena ada begitu
banyaknya permohonan yang
dimintakan dan sedang dipaketkan untuk dikirim ke bumi.

Kami melanjutkan perjalanan lagi hingga sampai pada
ujung terjauh koridor
panjang tersebut dan berhenti pada sebuah pintu
ruang kerja yang sangat
kecil.
Yang sangat mengejutkan aku,
hanya ada satu
malaikat yang duduk
disana, hampir tidak melakukan apapun.

"Ini adalah Seksi Pernyataan Terima Kasih", kata Malaikatku pelan.

Dia tampak malu

"Bagaimana ini? Mengapa hampir tidak ada pekerjaan
disini?", tanyaku.

"Menyedihkan", Malaikat-ku menghela napas. "
Setelah manusia menerima rahmat
yang mereka minta, sangat sedikit manusia yang
mengirimkan pernyataan terima kasih".

"Bagaimana manusia menyatakan terima kasih atas Rahmat Tuhan?", tanyaku.

"Sederhana sekali",
jawab Malaikat.
"Cukup berkata,
'ALHAMDULILLAHI
RABBIL AALAMIIN,
Terima kasih, Tuhan' ".

"Lalu,
rahmat apa saja yang perlu kita syukuri?”, tanyaku.

Malaikat-ku menjawab,
"Jika engkau mempunyai makanan
di lemari es,
Pakaian yang menutup tubuhmu,
atap di atas kepalamu dan
tempat untuk tidur,
Maka engkau lebih kaya dari 75% penduduk dunia ini.

"Jika engkau memiliki uang di bank, di dompetmu,
dan
uang-uang receh,
maka engkau berada diantara 8% kesejahteraan dunia.

"Dan jika engkau mendapatkan pesan ini di komputermu,
engkau adalah bagian
dari 1% di dunia yang memiliki kesempatan itu.

Juga....
"Jika engkau bangun pagi ini dengan lebih
banyak kesehatan
daripada kesakitan ...
engkau lebih dirahmati
daripada begitu banyak orang
di dunia ini yang tidak dapat bertahan hidup hingga hari ini.

"Jika engkau tidak pernah mengalami ketakutan dalam
perang, kesepian dalam
penjara, kesengsaraan penyiksaan, atau kelaparan
yang amat sangat ....

Maka,
engkau lebih beruntung dari 700 juta orang di dunia".


"Jika,........
engkau dapat menghadiri Masjid atau pertemuan religius tanpa ada
ketakutan akan penyerangan, penangkapan, penyiksaan,
atau kematian ...
M a k a,....
engkau lebih dirahmati daripada 3 milyar orang di
dunia.

"Jika,....
orangtuamu masih hidup
dan masih berada dalam
ikatan pernikahan ...
Maka,.....
engkau termasuk orang yang sangat jarang.

"Jika engkau dapat menegakkan kepala dan tersenyum,
maka,.....
engkau bukanlah
seperti orang kebanyakan,
engkau unik dibandingkan
semua mereka yang berada
dalam keraguan dan keputusasaan.

"Jika,...
engkau dapat membaca pesan ini,
maka engkau menerima rahmat ganda
yaitu
bahwa seseorang yang mengirimkan ini padamu, berpikir bahwa engkau
orang yang sangat istimewa baginya, dan bahwa,
engkau lebih dirahmati
daripada lebih dari 2 juta orang
di dunia yang bahkan tidak dapat membaca sama sekali".

Nikmatilah hari-harimu, hitunglah rahmat
yang telah
Allah anugerahkan kepadamu.
Dan jika engkau berkenan, kirimkan pesan ini ke semua
teman-temanmu untuk mengingatkan mereka betapa
dirahmatiNya kita semua.

"Dan ingatlah tatkala Tuhanmu
menyatakan bahwa,
'Sesungguhnya jika kamu
bersyukur, pasti Aku akan menambahkan lebih banyak
nikmat kepadamu' ".
(QS:Ibrahim (14) :7 )

Ditujukan pada :
Departemen Pernyataan Terima Kasih:
"Terima kasih, Allah!
Terima kasih, Allah, atas
anugerahmu berupa kemampuan
untuk menerjemahkan dan membagi pesan ini dan
memberikan aku begitu banyak
teman-teman yang istimewa untuk saling berbagi".

Kekayaan, Kesuksesan Atau Cinta ??


Suatu ketika, ada seorang perempuan yang kembali pulang ke rumah,dan ia melihat ada 3 orang laki-laki berjanggut yang duduk di halaman depan. Perempuan itu tidak mengenal mereka semua. Perempuan itu berkata: "Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar.Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut. Laki-laki berjanggut itu lalu balik bertanya, "Apakah suamimu sudah pulang? Perempuan itu menjawab, "Belum, dia sedang keluar. "Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk.

Kami akan menunggu sampai suami mu kembali, kata laki-laki itu. Di waktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, "Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini.

Perempuan itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. "Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama" , kata laki-laki itu hampir bersamaan."Lho, kenapa? tanya perempuan itu karena merasa heran.
Salah seorang laki-laki itu berkata, "Nama dia Kekayaan,"katanya sambil menunjuk seorang laki-laki berjanggut di sebelahnya, dan "sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu laki-laki berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu.

Perempuan itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan laki-laki di luar. Suaminya pun merasa heran. "Oh...menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk ke dalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan. Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, "sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita. "Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. "Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta. Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. "Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita.

Perempuan itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 laki-laki itu. "Siapa diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini. Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Oh..ternyata, kedua laki-laki berjanggut lainnya pun ikut serta.

Karena merasa ganjil, perempuan itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. "Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga? Kedua laki-laki yang ditanya itu menjawab bersamaan. "Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal di luar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan.

Selasa, 04 Oktober 2011

Dongeng - Kerbau Dan Kambing


Seekor kerbau jantan berhasil lolos dari serangan seekor singa dengan cara memasuki sebuah gua dimana gua tersebut sering digunakan oleh kumpulan kambing sebagai tempat berteduh dan menginap saat malam tiba ataupun saat cuaca sedang memburuk. Saat itu hanya satu kambing jantan yang ada di dalam gua tersebut. Saat kerbau masuk kedalam gua, kambing jantan itu menundukkan kepalanya, berlari untuk menabrak kerbau tersebut dengan tanduknya agar kerbau jantan itu keluar dari gua dan dimangsa oleh sang Singa. Kerbau itu hanya tinggal diam melihat tingkah laku sang Kambing. Sedang diluar sana, sang Singa berkeliaran di muka gua mencari mangsanya.
Lalu sang kerbau berkata kepada sang kambing, "Jangan berpikir bahwa saya akan menyerah dan diam saja melihat tingkah lakumu yang pengecut karena saya merasa takut kepadamu. Saat singa itu pergi, saya akan memberi kamu pelajaran yang tidak akan pernah kamu lupakan."

Sangatlah jahat, mengambil keuntungan dari kemalangan orang lain.

Karya : Aesop

Kematian Yang Terindah



Hidup saya hancur. Kecelakaan mobil yang saya alami membuat kaki saya lumpuh. Cacat seumur hidup. Ya, itulah ‘vonis’ yang dijatuhkan dokter kepada saya. Memang kedua kaki saya tidak sampai diamputasi. Tapi setelah mendengar vonis tersebut buat apa memiliki kaki jika tidak bisa dipergunakan lagi?
Saya pasrah. Saya akan menjadi lelaki tua yang kesepian, duduk di atas kursi roda dan sepanjang hari merenung di depan jendela apartemen memandang anak-anak kecil bermain ditemani kedua orangtua mereka. Atau mengamati orang-orang yang sedang berjalan dan berlari dengan lincah. Oh! Betul-betul hidup yang membosankan.
Tunangan saya, Mary Ann setiap hari menghibur saya. Saya bersyukur memiliki kekasih seperti dia. Dia mengatakan tetap bersama saya meski saya cacat.
"Kamu mau hidup seperti ini?"
"Maksudmu?"
"Hidup bersama dengan lelaki cacat tentunya membosankan. Dan jika kita jadi menikah nanti kau akan terus menerus merawat saya seperti anak kecil. Bukankah orang cacat sangat tergantung dengan orang lain?"
"Tentu saja kita akan terus bersama. Kita tetap akan menikah." sahut Mary sambil membelai rambut saya. Air mata saya mengalir. Saya terharu. Kehadirannya membesarkan hati saya. Meski setiap malam saya berpikir, jangan-jangan Mary cuma mau menghibur saja. Atau jangan-jangan Mary cuma kasihan dan suatu saat nanti dia meninggalkan saya setelah sebelumnya meninggalkan surat. Surat berisi permintaan maaf dan di dalamnya ada sehelai cek, biaya sekedarnya untuk kehidupan saya.
Kalau boleh saya berargumentasi saya tak salah berpikiran demikian. Tunangan saya Mary adalah wanita yang pintar dan cantik. Bentuk tubuhnya begitu indah. Sebelum menjadi wartawan, pekerjaannya sekarang ia bahkan pernah menjadi model. Banyak lelaki yang tidak tertarik kepadanya, termasuk saya.
Suatu hari ketika musim gugur saya serasa mendapat hadiah lotere. Betapa tidak, Mary Ann terlebih dahulu menyatakan cintanya kepada saya. Wanita yang selama ini saya anggap cuma teman biasa saja di kantor dan kebetulan menjadi idaman setiap lelaki di kantor ternyata mencintai saya.
Katanya saya berbeda. Lho, apanya yang menarik, tanya saya heran. Katanya saya sederhana, dewasa, gesit, pintar, dan jujur. Itu yang membuat dia tertarik. Katanya saya tidak seperti lelaki yang pernah mengajaknya kencan.
"Pandangan-pandangan mereka tersirat hanya ingin mencumbui dan meniduri saya." ucap Mary. "Mereka berpikiran kotor. Mereka cuma mau tubuh saya." lanjutnya sambil meneguk sisa coke di gelas.
"Beda dengan kamu. Kamu selalu menolong saya tanpa pamrih. Kau ingat, berita yang saya buat dipuji-puji atasan karena kamu banyak membantu." lanjutnya.
"Akh, tapi itu kan hanya bantuan biasa saja. Bukankah kebetulan saya punya banyak daftar nama-nama nara sumber untuk tugasmu."
"Tapi kamu lain. Memang posisi di kantor mengharuskan kita bekerja sama. Kamu sabar melayani telepon saya malam-malam ketika waktunya orang tidur. Dulu saya merasa pertanyaan saya mungkin kedengarannya tolol untuk orang sepintar kamu. Kamu tak seperti lelaki lain yang ringan tangan tetapi seterusnya menggoda saya dan meminta saya macam-macam."
Jujur saya juga menyukainya. Bukankah hal yang wajar seorang pria mengagumi kecantikan wanita? Tetapi saya tahu diri. Saya merasa hanya lelaki biasa yang beruntung bekerja satu kantor dengannya. Mary sangat luwes dan cantik. Tentu saja lelaki yang cocok dengannya adalah lelaki gagah seperti yang terjadi dalam film-film dan novel-novel roman. Terus terang saya dulu cuma berani mengkhayalkan Mary Ann menjadi kekasih saya, tak lebih.
Berkali-kali saya cubit tangan saya. Saya tampar pipi saya, saya jambak rambut saya. Saya tahu ini cuma mimpi. Ternyata ini kenyataan. Mary Ann benar menyukai saya. Selanjutnya kami menjadi sepasang kekasih. Bahkan kami sepakat untuk bertunangan. Teman-teman kantor mengucapkan selamat kepada saya.
"You’re lucky man." ucap Fred, sahabat saya.
"Thank’s."
Tetapi itu dulu. Ketika saya masih gesit. Sekarang saya cacat. Hidup saya hanya melulu di atas kursi roda. Apakah Mary tetap mencintai saya? Bukankah ia sangat cantik dan menarik? Bukankah ia amat mudah mendapatkan lelaki yang diinginkannya? Pikiran-pikiran itu terus mengganggu saya. Saya berubah menjadi pencemburu. Saya selalu cemburu jika Mary berbicara dengan lelaki lain, bahkan kepada kakak saya sendiri, Tom jika membesuk saya di rumah sakit. Saya akui saya takut kehilangan Mary.
Suatu hari pikiran saya berubah. Saya relakan jika suatu saat Mary benar-benar meninggalkan saya. Dia berhak mendapatkan kebahagiaan. Toh, dulu saya tidak berminat mengejarnya. Hidupnya tentu akan sia-sia menghabiskan waktu dengan lelaki cacat yang sepanjang hari duduk di kursi roda.
"Tolong buang jauh-jauh pikiran itu. Saya tidak akan meninggalkanmu."
"Kau tentunya malu punya suami cacat. Kau wartawan dan pengarang yang berhasil, peraih macam-macam hadiah dan penghargaan. Kau selalu jadi buah bibir. Kau publik figur. Sayang suaminya cacat..."
"Percayalah, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu."
"Mary, masa-masa saya sudah lewat. Sekarang hidup saya pasti membosankanmu. Saya tak bisa menemanimu ke pesta, jalan-jalan, bahkan tidak bisa lagi berdansa denganmu. Saya sudah tidak berguna lagi."
"Jangan begitu. Aku masih mencintaimu dan kita akan menikah."
"Akh, kau tentunya berkata begitu karena kasihan. Selanjutnya kau tertarik dengan lelaki lain dan..."
"Sudah! Sudah! Kenapa kau tidak percaya?"
Saya diam.
"Saya akan selalu mendampingimu, sampai mati. Kita akan bersama selamanya."
***
Pekerjaan saya bertahun-tahun kata atasan saya mengagumkan. Saya tetap di sana bahkan naik pangkat sebagai redaktur sekaligus editor. Saya tidak harus selalu hadir di kantor. Saya diberi kepercayaan mengerjakan segala pekerjaan di apartemen saya. Saya juga diberikan anak buah yang ditugaskan khusus untuk membantu karena saya cacat dan tidak mungkin lagi ditugaskan ke luar negeri. Saya juga menggaji seorang pembantu sekaligus sopir yang siap membantu saya bepergian.
Saya senang sekali. Bekerja di tempat tinggal sendiri sungguh menyenangkan. Saya membuat novel dan cerita pendek yang semasa aktif dulu sebagai wartawan selalu tidak pernah selesai saya kerjakan. Akan tetapi sampai sekarang ini saya tetap tidak bisa menghilangkan keraguan saya terhadap Mary. Setiap pagi jika ia pamit ke kantor diam-diam saya berpikir ia sekaligus mengucapkan selamat berpisah secara tidak langsung. Setiap hari saya menyiapkan diri untuk berpisah dengannya. Meski selama ini saya tidak pernah mengatakan kepada siapapun saya terus membiarkan prasangka itu di dalam otak saya. Saya siap kelak hidup sendiri tanpa Mary.
Saya juga maklum jika memang benar Mary menjalin cinta dengan pria lain. Dia berhak mendapatkannya. Setiap hari saya siapkan diri jika sangkaan saya benar. Suatu malam pikiran saya berubah lagi. Ternyata hati kecil saya tak rela Mary pergi. Saya teramat mencintainya. Saya tidak rela Mary akan pergi dari kehidupan saya.
Malam ini saya terus berpikir bagaimana caranya Mary tidak akan meninggalkan saya. Saya berpikir besok saya akan pergi ke Fess, membeli pistol sekaligus mengurus surat-suratnya. Saya akan menembaknya dan kemudian menembak kepala saya sendiri. Saya akan hidup bersama selamanya di alam baka. Tetapi setelah saya pikir-pikir kematian macam itu terlalu ekstrim. Saya bisa membangunkan seluruh penghuni apartemen. Tetangga-tetangga saya di sini kebanyakan wanita-wanita tua yang hidup menjanda. Apalagi mereka memiliki penyakit jantung yang teramat serius. Saya tak tega orang lain akan menanggung musibah. Masakan saya ingin hidup abadi tetapi orang lain juga ikut mati? Tidak adil. Bisa-bisa nanti di sana saya bakalan dicaci sebagai biang keladi kematian mereka!
Saya coret rencana membeli pistol di agenda saya. Saya harus pikirkan jalan lain. Saya berpikir akan membeli racun. Ya, ya. Saya akan meracuni istri saya. Tapi racun apa yang paling ampuh? Saya tidak paham obat-obatan. Yang saya ketahui paling-paling cuma racun tikus dan serangga. Baunya saja menyengat. Pasti rencana saya gagal. Bahkan ketika giliran saya menenggaknya saya sendiri pasti akan muntah karena tidak tahan baunya.
Racun memang jalan yang tepat. Tetapi racun apa? Racun apa yang tidak bau dan tidak menimbulkan bekas? Saya buka-buka buku alamat saya. Saya cari daftar nama-nama nomor telepon relasi, orang-orang yang pernah saya jadikan nara sumber dan responden saya. Tentunya yang berprofesi sebagai dokter atau bekerja di klinik, apotik atau laboratorium. Saya telepon mereka satu per satu. Ternyata semuanya sudah pindah. Wah, harus kemana lagi saya?
***
Setelah membaca novel Agatha Christie, hadiah ulangtahun saya ke-34 dari Fred saya mendapat ilham. Setelah dibaca saya pandangi sampul buku itu. Novel ini baru sempat sekarang saya baca. Keterlaluan, pikir saya. Masak hadiah yang diberikan dua tahun yang lalu baru sekarang saya baca? Saya tersenyum. Pasti Fred kesal jika saya cerita kalau novel hadiah darinya baru sempat saya baca sekarang. Teman saya ini paling rajin membelikan saya buku. Untung jika bertelepon Fred tak pernah menyinggungnya. Dia sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan barunya sebagai dosen di London.
Saya simpan kembali novel itu ke dalam rak. Selanjutnya saya mencatat dalam agenda saya. Saya berpikir besok saya akan membeli sianida. Anak buah saya pasti bisa mendapatkannya. Kebetulan saya baru mengetahui Max, anak buah saya itu mempunyai sepupu yang bekerja sebagai kepala laboratorium klinik kesehatan. Tentunya ia bisa mengusahakan untuk mendapatkannya.
"Kau mengerti bagaimana rasa penasaran pengarang seperti saya. Masakan saya membuat cerita matinya seseorang dengan sianida tetapi tak mengetahui bagaimana bentuk sianida?" kata saya.
"Tapi bagaimana wawancara kita dengan Stephen Macmillan? Bukankah itu untuk bahan berita kita?" tanya Max.
"Ah, sudahlah. Tunda saja dulu. Lagipula kantor kita tak terlalu buru-buru membutuhkan wawancara itu. Saya kan teman baiknya. Saya tahu semua jadwal acaranya. Telepon dia, batalkan pertemuanmu. Mumpung saya lagi ada waktu menyelesaikan novel saya yang sudah dua tahun tertunda-tunda." kata saya berbohong.
***
Malam ini saya siapkan suasana romantis di apartemen saya. Chinese food, makanan kesukaan Mary sudah dipesan. Lilin di meja sudah saya nyalakan. Meja sudah disiapkan. Musik di ruang tengah juga saya pasang.
Tepat jam delapan malam istri saya pulang dari kantor. Ia begitu bahagia saya menyiapkan makan malam yang romantis. Kami berciuman. Bau parfumnya yang merangsang itu membuat saya semakin tidak ingin berpisah dengannya.
"Ini benar-benar kejutan." katanya.
"Ketahuilah, sudah lima tahun usia perkawinan kita dan kau masih mendampingi saya. Kita sudah terlalu lama tenggelam dalam kesibukan masing-masing sehingga tak sempat lagi melakukan hal seperti ini." kata saya.
Setelah makan saya tuang dua gelas anggur. Tentunya minuman tersebut sudah diberi sianida, racun yang menurut novelis Agatha Christie teramat bersih dan tidak meninggalkan bekas. Sehabis menenggak anggur kami asyik tertawa-tawa sambil mengenang masa pacaran dulu. Malam semakin larut. Kami mengantuk. Sudah saatnya tidur.
***
Keesokan paginya, entah saya berada di mana saya menyaksikan diri saya sendiri dan Mary sudah tak bernyawa di atas ranjang. Max, anak buah saya dan Billy, pembantu sekaligus sopir pribadi saya yang menemukan kami. Mereka panik. Selanjutnya apartemen saya penuh dengan polisi dan paramedis. Saya puas. Semuanya berjalan begitu indah, sesuai rencana. Saya juga menyaksikan Max menemukan lembaran naskah yang berserakan di meja kerja saya. Sebuah naskah cerpen Kematian Yang Terindah. Dibacanya sejenak cerpen itu. Saya berharap suatu saat Max mengirimkannya bersama naskah saya yang lain. Saya ingat pernah berjanji kepada sebuah penerbit buku yang sudah sekian lama menunggu selesainya naskah buku kumpulan cerpen saya untuk diterbitkan.

Karya : Donny Anggoro