Tampilkan postingan dengan label Faith. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Faith. Tampilkan semua postingan

Kamis, 08 Januari 2009

Kehancuran Bumi Tahun 2053

Benarkah Bumi Akan Hancur Tahun 2053 ?


Silahkan Baca Selengkapnya Di Sini

Al - Qur`an Digital

Senin, 05 Januari 2009

Yesus Di Ciptakan Atau Tidak Di Ciptakan

Arkhe = “sumber” atau “permulaan” ?
WAHYU 3:14
“Inilah Firman dari Amin (Yesus), Saksi yang setia dan benar, permulaan (arkhe) dari ciptaan Allah”

Unitarian yakin betul bahwa ayat ini membuktikan bahwa Yesus adalah ciptaan Allah, sementara kaum Trinitarian berbeda pandang.

Klaim Trinitarian: Kata ‘Permulaan’ dalam Wahyu 3:14 berasal dari bahasa Yunani ‘arkhe’ yang seharusnya diterjemahkan: “Sumber”, karena “arkhe” selain berarti ‘permulaan’ juga bisa berarti ‘kepala’ atau ‘pemerintah’. Kepala merupakan sumber, jadi: Amin saksi yang setia dan benar itu adalah ‘kepala’ atau ‘sumber’ ciptaan Allah. Artinya Yesus bukan ciptaan tapi Yesuslah Allah pencipta yang sejati.

Jawab: Begitu banyak ahli bahasa Yunani yang memahami kata “arkhe” di Wahyu 3:14 sebagai “permulaan” / the beginning. Bahkan para pakar Alkitab penganut Tritunggal pun jelas-jelas menerjemahkan kata “arkhe” sebagai “permulaan” (the beginning) dalam berbagai versi Alkitab mereka, termasuk Lembaga Alkitab Indonesia. Tapi memang ada juga beberapa orang - yang demi mengklaim bukti Yesus Allah – ngotot bahwa “arkhe” di Wahyu 3:14 harus diterjemahkan sebagai “sumber” (source).
Jadi, terjemahan yang manakah yang benar? Permulaan (the beginning) atau Sumber (source)???
Penulis kitab Wahyu adalah Yohanes. Tulisan Yohanes memakai kata “arkhe” cukup banyak di dalam surat-suratnya, dan kesemuanya pada umumnya berarti “permulaan” atau “awal” (menunjuk pada keterangan waktu). Sebagai perbandingan bisa kita lihat pemakaian kata “arkhe” di Yoh 1:1 yang tertulis “en arkhe en ho logos …” yang artinya: “pada mulanya adalah sang firman …” Kita semua sepakat bahwa kata “arkhe” di ayat tersebut diterjemahkan dengan tepat sebagai “mulanya” (awalnya). Dan tampaknya tidak seorangpun sarjana Alkitab, yang paham bahasa Yunani, yang akan menerjemahkan “arkhe” di Yoh 1:1 sebagai “sumbernya”.
Nah, kata “mulanya” pada Yoh 1:1 dalam bahasa Indonesia berasal dari kata dasar ‘mula’. Demikian pula kata “permulaan” pada Wahyu 3:14 berasal dari kata dasar “mula”. Jadi “arkhe” baik di Yoh 1:1 maupun Wahyu 3:14 sama-sama menunjuk pada keterangan waktu “mula” (the beginning). Samasekali bukan berasal dari kata “sumber”.
Jika penganut Tritunggal setuju dengan terjemahan “arkhe” pada Yoh 1:1 sebagai “mulanya”, maka akan tampak tidak jujur jika mereka kemudian kekeuh memaksa menerjemahkan kata “arkhe” pada Wahyu 3:14 sebagai “sumbernya”, dalam rangka untuk membenarkan paham “Yesus Allah sejati” dan guna menghilangkan kesan bahwa Yesus adalah ciptaan Allah.
Berikut beberapa contoh tulisan-tulisan Yohanes di ayat-ayat selain Wahyu 3:14 yang menggunakan kata “arkhe” yang berarti “mulanya” (permulaan, the beginning, menunjuk keterangan waktu):
1.“Pada mulanya (arkhe) adalah firman ..” Yoh 1:1
2.“Hal itu dibuat Yesus di Kana Galilea, sebagai yang pertama [mula-mula/awal] (arkhe) dari tanda-tandanya..” Yoh 2:11.
3.“..,karena kamu dari semula (arkhe) bersama-sama aku” Yoh 15:27
4.“Apa yang telah ada sejak semula (arkhe)” 1Yoh 1:1
5.“..perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya (arkhe)” 1Yoh 2:7
6.“..karena kamu telah mengenal Dia, yang dari mulanya (arkhe) ..” 1Yoh 2:13
7.“…yang ada dari mulanya (arkhe) 1Yoh 2:14
8.“..apa yang telah kamu dengar dari mulanya (arkhe)” 1Yoh 2:24
9.“..sebab iblis berbuat dosa dari mulanya (arkhe) 1Yoh 3:8
10.“..berita yang kamu dengar dari mulanya (arkhe)” 1 Yoh 3:11
11.“..menurut perintah yang sudah ada pada kita dari mulanya (arkhe) 2Yoh 5
12.“..sebagaimana kamu dengar dari mulanya (arkhe)” 2Yoh 6

Jelas kata “arkhe” di ayat-ayat tulisan Yohanes tersebut berarti “mulanya” atau “the beginning” (keterangan waktu) dan samasekali tidak ada yang berarti sumber, maka akan terlalu sembrono jika penganut Tritunggal - demi berupaya keras menegakkan doktrinya - kemudian memaksa menerjemahkan “arkhe” di Wahyu 3:14 sebagai “sumber”!



Qanah = “memiliki” atau “menciptakan” ? AMSAL 8: 22, 23, 25, 26, 30

“Yahweh telah MENCIPTAKAN aku (hikmat, Yesus bergelar “hikmat” – 1Kor 1:24) sebagai PERMULAAN PEKERJAANNYA, sebagai perbuatanNya yang PERTAMA dahulu kala. .. Pada zaman purbakala, aku (pra-eksistensi Yesus) DIBENTUK, sebelum bumi ada. Sebelum samudera ..gunung-gunung, bukit-bukit ada, Aku (praeksistensi Yesus) telah LAHIR, sebelum Ia (Yahweh) membuat bumi … Aku (praeksistensi Yesus) ada sertanya sebagai ANAK KESAYANGANNYA”

Unitarian yakin, di Amsal 8:22, jika dihubungkan pada Yesus, jelas merupakan bukti Alkitabiah bahwa Yesus (praeksistensinya) adalah CIPTAAN ALLAH. Tetapi kaum Trinitarian membantahnya dengan berdalih bahwa di ayat tersebut tidak ada kata yang berarti “menciptakan”.

Klaim Trinitarian: Kata “menciptakan” (Ibrani: qanah) pada ayat 22 tersebut tidak benar. Kata “qanah” harus diartikan sebagai “memiliki” dan bukan “mencipta”! Artinya musti dipahami sebagai: Yahweh MEMILIKI Yesus, BUKAN MENCIPTAKAN Yesus!

Jawab: Kalau Trinitarian mengklaim bahwa kata “menciptakan” di ayat 22 tersebut salah, lalu bagaimana dengan terjemahan pada frase: “Permulaan pekerjaannya (ayat 22)”; “Perbuatannya yang pertama dahulu kala”; “Aku DIBENTUK (ayat 23)”; “sebelum gunung-gunung ada, aku [praeksistensi Yesus] TELAH LAHIR(1) (ayat 24,25) sebelum Ia [Yahweh] membuat dataran bumi (ayat 26)”; sebagai Anak(2) kesayanganNya (ayat 30)”. Dari ayat-ayat tersebut jelas sekali bisa kita pahami bahwa Yesus (sang hikmat) adalah: CIPTAAN / HASIL KERJA[PERBUATAN] ALLAH / DIBENTUK / DILAHIRKAN /DIPERANAKKAN.
CATATAN: 1) Istilah “lahir” dalam Alkitab mengacu pada arti “diciptaan”, bdkn: Mazmur 90:1-2 “..gunung-gunung DILAHIRKAN”. Gunung dilahirkan = gunung diciptakan / dibuat!
2) Istilah “Anak” (mengandung arti ‘diperanakkan’) juga mengacu pada makna “diciptakan”, bdkn: Mazmur 90:1-2 “..bumi dan dunia DIPERANAKKAN..”. Bumi dan dunia diperanakkan = diciptakan / dibuat!

Nah, jelas sekali Amsal 8 ayat 22 – 30 banyak berbicara tentang praeksistensi Yesus sebagai mahluk ciptaan Yahweh, yang juga diistilahkan “lahir” , “dibentuk”, “permulaan pekerjaan Yahweh”, “perbuatan Yahweh yang pertama” dan “anak kesayangan” (diperanakkan).
Lantas apakah terjemahan ayat 22-30 (yang membuktikan akurat bahwa “hikmat”[praeksistensi Yesus] sebagai ciptaan dan ‘hasil pekerjaan/karya Yahweh yang pertama’) tersebut salah semua??? Bukankah sangat jelas dari ikatan kalimat pada rangkaian ayat 22-30 tersebut dapat dipahami bahwa Sang hikmat (praeksistensi Yesus) adalah HASIL KARYA atau CIPTAAN atau PEKERJAAN YANG PERTAMA dari Bapa (Yahweh). Artinya jelas ‘sang hikmat’ [praeksistensi Yesus] adalah mahluk ciptaan/buatan/HASIL KARYA Yahweh. Sekalipun “qanah” di ayat 22a oleh kaum Trinitarian mau tetap mati-matian ngotot diartikan sebagai “memiliki”, hal itu tentu tidak bisa lari dari ayat 22b – 30-nya yang tegas membuktikan bahwa Sang Hikmat (praeksistensi Yesus) itu jelas-jelas “PERMULAAN PEKERJAAN ALLAH”,“DIBENTUK”, yang artinya = diciptakan!
Kemudian kalau kaum Trinitarian mengklaim bahwa kata “qanah” tidak tepat diartikan sebagai “mencipta”, klaim tersebut adalah suatu dusta besar! Kata “qanah” dalam Alkitab jelas juga memiliki arti “menciptakan”. Hal itu bisa kita simak dari contoh beberapa ayat berikut:
Ulangan 32:6 : “ ..Bukankah Ia Bapamu yang MENCIPTA (qanah) engkau, yang menjadikan dan menegakkan engkau”.
Kej 14:19, 22 : “.. Diberkatilah kiranya Abram oleh Allah Yang Mahatinggi, PENCIPTA (qanah) langit dan bumi, … kata Abram kepada raja negeri Sodom itu: Aku bersumpah demi Yahweh, Allah Yang Mahatinggi, PENCIPTA (qanah) langit dan bumi”.
Kata Ibrani “qanah” memang juga bisa berarti “memiliki / memperoleh”, namun, dari ayat-ayat tersebut (+ juga menurut kamus Ibrani) bisa dipahami bahwa dalam bahasa Ibrani bukan hanya kata “bara” saja yang berarti mencipta, kata “qanah” terbukti akurat: juga bermakna arti “mencipta”! Tetapi, sekali lagi, andaikata kaum Trinitarian masih mau ngotot berkata bahwa “qanah” di Amsal 8:22 harus diartikan “memiliki/memperoleh”, klaim tersebut tidak bisa lepas dari rangkaian ayat 23-30nya yang mengungkap jelas bahwa ‘sang hikmat’ adalah: HASIL KARYA / PEKERJAAN ALLAH YANG PERTAMA-TAMA, DIBENTUK (DICIPTAKAN) OLEH ALLAH!

Kesimpulan: Wahyu 3:14 dan Amsal 8:22-30 adalah ayat-ayat yang semakin kokoh menguatkan fakta-fakta Alkitabiah bahwa Yesus bukanlah Allah sejati. Sebaliknya ayat-ayat tersebut menjadi bukti akurat bahwa secara Alkitabiah Yesus adalah CIPTAAN ALLAH!

Sumber : UNITARIAN


Kamis, 11 Desember 2008

BENARKAH YESUS ITU TUHAN ?

Ditinjau Dari Perspektif Alkitabiah

Tulisan ini telah dimuat dalam Koran TIMEX (Harian TIMOR EXPRES, koran di NTT)pada 11-12 Agustus 2008. Dan mendapat banyak apresiasi dari pembacanya yang beraneka ragam menghubungi saya.
Pengantar:
Hari ini masih banyak orang yang sering bertanya-tanya perihal seputar ke-Tuhan-an Yesus. Ada yang yakin Yesus itu Tuhan, tapi tidak sedikit yang tegas berkata: Yesus itu bukan Tuhan. Berbicara masalah tentang ke-tuhan-an Yesus adalah hal yang sangat penting untuk dipahami dengan benar dan jujur. Tanpa kejujuran, suatu kebenaran akan dengan mudah diputar balikkan. Sedangkan tanpa kebenaran, maka kejujuran hanya akan berdiri rapuh tanpa dasar yang kuat. Kejujuran dan kebenaran pun harus ada standarnya. Jujur menurut standar siapa? Benar menurut standar apa? Ini harus jelas dan ada kesepakatan dulu, supaya sama-sama bisa memahami dan tidak bertikai nantinya.
Analogi: Kalau anda semua dan saya mau sama-sama mengukur panasnya suhu di suatu ruangan yang sama, maka sebelum mengukurnya, kita musti sepakat dulu bahwa standar yang akan kita pakai mengukur suhu harus sama dulu, parameternya musti sama, yaitu anda-anda dan saya harus sama-sama sepakat untuk pakai thermometer udara (atau alat pengukur suhu yang benar). Kalau saya memutuskan mengukur memakai thermometer udara, sementara ada orang yang mau mengukur pakai hitungan suhu badan, sedang yang lainnya ada juga yang mengukur berdasar angka-angka derajat celcius yang muncul di mesin AC, ada juga yang mengukur berdasar ilmu kira-kira, atau standar ukuran lain-lainnya sesuai hasrat masing-masing orang (semaunya sendiri), maka dapat dipastikan yang akan terjadi adalah: tidak akan ada titik temu disebabkan standar alat ukurnya -masing-masing orang- berbeda-beda.
Nah, demikian juga dalam hal menelaah “ke-tuhan-an Yesus” ini. Standar-ukurannya (parameter) apa yang mau kita pakai, musti jelas dulu. Yesus itu disebut Tuhan menurut siapa? Atau, Yesus itu bukan Tuhan menurut apa? Standar ukurannya musti jelas. Dan pada kesempatan ini Saya, tampil sebagai seorang Kristen (dalam arti: pengikut Yesus Kristus), maka akan memfokuskan ukuran / standarnya berdasar pada kitab-kitab Kristen yang telah terukur keabsahannya (terkanonisasi), yaitu Alkitab. Sekali lagi, standarnya Alkitab! Bukan targum-targum Yahudi, tulisan-tulisan teolog zaman dulu, atau kitab yang lainnya, tidak! Saya akan sampaikan hal Ke-tuhan-an Yesus fokus dari perspektif Alkitab. Dengan cara jujur dan benar serta cermat mengkaji Alkitab, maka masalah ke-tuhan-an Yesus akan lebih mudah dan gamblang untuk dipahami. Tidak perlu teori filsafat atau ilmu teologi yang berputar-putar. Bagi Saya, ayat-ayat Alkitab cukup jelas terang-benderang menjawab pertanyaan tema kita: Benarkah Yesus itu Tuhan?

Kata Kunci Sebelum nanti kita melihat kesaksian-kesaksian Alkitab soal ke-tuhan-an Yesus, ada 2 (dua) istilah kata penting -yang banyak muncul di Alkitab- yang perlu kita bahas terlebih dulu. Dua kata itu adalah “Tuhan” dan “Allah”. Berdasar pengamatan Saya selama ini, hampir selalu kata “Tuhan” dan “Allah” ini-lah yang sering menjadi pemicu kesalah pahaman atau perdebatan perihal ke-tuhan-an Yesus. Pemahaman yang benar terhadap dua kata tersebut akan menjadi kunci utama bagi para pembaca Alkitab, guna mendapatkan pandangan yang jelas tentang siapa Tuhan, siapa Allah dan siapa Yesus. Tanpa pemahaman yang tepat terhadap istilah “Tuhan” dan “Allah” di Alkitab ini, maka ayat-ayat Alkitab akan bisa tampak rancu, terkesan kontradiksi, membingungkan, bahkan tidak sedikit orang yang karena bingung atau tidak bisa paham sepenuhnya, akhirnya menabrak pada kesimpulan: Alkitab itu menyesatkan!

Istilah “Tuhan” dan istilah “Allah” dalam Alkitab berbeda dengan kitab suci lainnya.
Dalam kitab suci lain, umumnya istilah “Tuhan” dan “Allah” menunjuk pada satu hal atau substansi yang sama. Kamus Bahasa Indonesia juga tampak menerjemahkan ke-dua istilah tersebut sebagai satu substansi yang sama. Itu sebabnya kini sebagian besar orang tidak lagi mempermasalahkan substansi kata “Tuhan” dan “Allah”. Orang sering berkata: “Tuhan” ya “Allah”, “Allah” ya “Tuhan”, sama saja. Namun, khusus dalam Alkitab terjemahan Indonesia, ternyata kata “Tuhan” dan “Allah” ini mengandung makna yang sangat berbeda substansi maknanya! Mari kita telaah:

Memahami pengertian kata “Tuhan” dalam Alkitab. Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata “Tuhan” berarti:
1)yang diyakini, dipuja, dan disembah oleh manusia sebagai Yang Mahakuasa, Mahaperkasa, dsb; Allah; Yang Maha Esa;
2)Sesuatu yang dianggap sebagai Tuhan.

Sedangkan kata “Tuhan” dalam Alkitab maknanya ternyata ada perbedaan dengan KBBI. Kata “tuhan” dalam Alkitab, bahasa aslinya adalah “adon [adonay]” (Ibrani), atau “kurios” (Yunani). Bahasa Inggrisnya “lord”.
Nah, “adonay” / “kurios” / “lord” ini, ternyata padanannya yang tepat dalam bahasa Indonesia adalah: “Tuan” (tanpa huruf “h”). Sebagai contoh akan kita lihat jelas di ayat berikut:
“as Sarah obeyed Abraham calling him lord” (1Petrus 3:6) Terjemahan Indonesianya: “Sama seperti Sarah taat kepada Abraham dan menamai dia tuannya”. Kata “lord” / “tuan” di ayat tersebut dalam bahasa Yunaninya = kurios, Ibrani= adonay.
Artinya, Abraham layak disebut sebagai “lord” / “kurios” / “tuan”, sebuah gelar yang persis juga dikenakan kepada Yesus. Dalam Alkitab Yesus berulangkali disebut sebagai “lord” / “kurios” yang arti sejatinya adalah “tuan”. Tapi mengapa kini kata “lord” / “kurios” yang dikenakan pada Yesus kok ditulis sebagai “Tuhan”? Apakah ada beda “tuan” dengan “tuhan” dalam Alkitab?
Alkitab Indonesia tampak sekali tidak konsisten ketika menerjemahkan kata “lord” / “kurios”. Ada yang diterjemahkan sebagai “Tuhan” tapi ada juga yang “tuan”. Untuk hal itu ahli bahasa Remy Silado pernah menjelaskannya dengan sangat gamblang tentang asal-usul kata “Tuhan”, dalam tulisannya yang berjudul: “Bapa jadi Bapak, Tuan jadi Tuhan, Bangsa jadi Bangsat” (Kompas 11 September 2002). Di situ Remy Silado menjabarkan:
Dalam Ensiklopedi Populer Gereja oleh Adolf Heuken SJ bahwa: arti kata Tuhan ada hubungannya dengan kata Melayu ‘tuan’ yang berarti atasan/penguasa/pemilik (alias bos). Setelah diselidiki, ternyata kata “Tuhan” ini pertama muncul dalam peta kepustakaan Melayu beraksara Latin lewat terjemahan kitab suci Nasrani. Artinya, sesungguhnya orang Nasranilah penemu atau pencipta kata “Tuhan”.
Remy Silado membuktikan, dalam kitab suci Melayu terjemahan Brouwerius tahun 1668, kata Yunani “kurios” (yang adalah gelar bagi Yesus/Isa Almasih) masih diterjemahkan sebagai “tuan” (tanpa huruf “h”). Kemudian VOC menyuruh Pendeta Melchior Leijdecker untuk menerjemahkan ulang seluruh Alkitab. Nah, pada terjemahan Leijdecker inilah ditemukan secara akurat perubahan harafiah dari kata “tuan” menjadi “Tuhan” untuk padanan kata “adonay” atau “kurios”. Mengapa Leijdecker mengubah kata “tuan” menjadi “tuhan”? Ternyata tujuannya adalah agar bunyi “n” dapat diucapkan dengan baik. Sebab kala itu banyak orang yang baru belajar bahasa Melayu (bekas budak Portugis asal Goa) terpengaruh oleh bahasa Portugis mengucapkan “n” menjadi “ng”. Misal: di Ambon sampai sekarang “tuan” dibaca “tuang”; Tuang Ala artinya Tuhan Allah.
Nah, inti dan hakikatnya dari segi penelusuran bahasa yang akurat, ilmiah dan tepat serta sangat bisa dipertanggung jawabkan, dapat dipastikan bahwa kata “Tuhan” yang dipakai dalam Alkitab bahasa Indonesia sama maknanya dengan “Tuan”. Oleh karena itu, maka, musti dipahami betul bahwa:
Tuhan Yesus (Yunani: kuriou Iesou), artinya = Tuan Yesus (BUKAN ALLAH YESUS!)
Tuhan Allah (kuriou ho theou), artinya = Tuan Allah
Poin yang sangat perlu dipahami benar: bahwa gelar “Tu(h)an” beda maknanya dengan “Allah”. Kata “Tuhan” dan “Tuan” di Alkitab sebetulnya tidak ada perbedaan arti, sama-sama berasal dari kata “adonay” atau “kurios”. Konsekuensinya jelas, saat membaca Alkitab, maka “Tuhan” tidak boleh sembarang disamakan dengan “Allah”.

Memahami Pengertian kata “Allah” dalam Alkitab.
Kata “Allah” sejatinya adalah kata serapan dari bahasa Arab. Padanannya di dalam Alkitab istilah kata yang dipakai adalah “elohim” (bhs. Ibrani) atau “theos” (bhs. Yunani), atau “god” (bhs. Inggris) yang mengandung makna “sesembahan” atau “yang patut diibadahi”.
“elohim” atau “theos” atau “God” di Alkitab (yang kemudian di Alkitab Indonesia kini diterjemahkan juga sebagai “Allah”), selain bisa dipakai untuk menunjuk pada YAHWEH (Allahnya Israel)*, ternyata kerap kali juga dipakai untuk menunjuk pada pribadi-pribadi yang tampil sebagai utusan dari YAHWEH. Artinya, “Allah / elohim / Theos / God, di Alkitab, memiliki dua makna utama,
Pertama: “elohim”(Allah) menunjuk kepada YAHWEH. Misal: Keluaran 20:2-3 :
“Akulah YAHWEH, Allah (elohim)-mu, … jangan ada padamu allah (elohim) lain di hadapan-Ku”
Syahadat iman Israel berdasar Ulangan 6:4 “… Yahweh elohenu, Yahweh ekhad, artinya Yahweh itu Allah kita, Yahweh itu esa”.
Kedua: “elohim” (Allah) menunjuk pada utusan-utusan YAHWEH yang tampil atau datang atas nama YAHWEH.
Lebih jelas bisa kita lihat dari ayat-ayat berikut:
YAHWEH adalah Allah segala allah / YAHWEH elohim ha elohim – Ulangan 10:17.
Dari frase “segala allah” di ayat itu, tersurat jelas bahwa ternyata “elohim” (allah) di Alkitab ada banyak, hingga bisa dikatakan: YAHWEH adalah Allah dari segala allah.
Di ayat lain juga dikatakan:
“Allah (elohim) berdiri dalam sidang ilahi, di antara para allah (elohim) Ia menghakimi, … Aku (YAHWEH) sendiri telah berfirman: “Kamu adalah allah (elohim), dan anak-anak Yang Mahatinggi kamu sekalian” – Mazmur 82:1,6.
“Berfirmanlah YAHWEH kepada Musa: “Lihat, Aku mengangkat engkau sebagai Allah (elohim) bagi firaun, … “- Keluaran 7:1
Keluaran 22:8-9 terjemahan Indonesia menuliskan: Jika ada kasus pencurian maka penyelesaiannya harus dibawa menghadap “Allah (elohim)”. Sementara untuk kata “Allah / elohim” di ayat itu, Alkitab King James Version menuliskannya dengan kata: “judges” artinya hakim-hakim. Artinya, para hakim di zaman itu yang secara fungsional menjadi wakil YAHWEH, akan disebut juga sebagai “Allah / elohim”.
Sementara menurut kata-kata Yesus sendiri, di kitab Yohanes berbahasa Yunani, disebutkan pula bahwa ‘Penerima dan Pembawa Firman’ juga boleh disebut sebagai “Theos (Allah)” – sebagaimana tertulis: “Kata Yesus kepada mereka: ... kepada siapa firman itu disampaikan, disebut allah [theos]” ( baca: Yohanes 10:34-35). Itu pula sebabnya di Yohanes 1:1 ‘Sang Firman’ –yang mengacu pada sosok Yesus- disebut sebagai “theos” (Yunani: kai theos en ho logos), yang oleh L.A.I diterjemahkan sebagai: [Sang] Firman itu adalah Allah.

Dari Mazmur 82:1,6, Keluaran 7:1, Keluaran 22:8-9 serta Yohanes 1:1 dan Yohanes 10:35 tersebut jelas sekali Alkitab mengungkap secara eksplisit dan implisit, tersurat dan tersirat, bahwa ternyata memang ada banyak pihak yang bisa disebut “elohim / theos / allah” menurut Alkitab.
Nah, pemahaman yang kita dapat tentang adanya banyak “allah / elohim / theos / god” di Alkitab ini, ternyata juga sesuai dengan kesaksian Rasul di Perjanjian Baru:
1 Korintus 8:5: “Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah / theos”, baik di sorga, maupun di bumi – dan memang benar ada banyak “allah /theos” dan banyak “tuhan” yang demikian - …”
Jelas sudah, Alkitab mengungkapkan cukup gamblang istilah “Allah / elohim / theos / god”, dapat dikenakan juga kepada sosok-sosok lain selain Yahweh (selain Allah Sejati) yang secara fungsional mereka tampil sebagai wakil utusan Yahweh. Namun, bagi sebuah pengakuan iman, orang-orang percaya akan mengatakan: Yahweh-lah Allah, tidak ada sesembahan lain selain Yahweh - Kel 20:2-3 (setara: La illaha ilallah). Seperti juga pengakuan iman Rasul Paulus: “Sebab sungguhpun ada apa yang disebut “allah / theos”, baik di sorga, maupun di bumi – dan memang benar ada banyak “allah /theos” dan banyak “tuhan” yang demikian – namun bagi kita hanya ada satu Allah saja, yaitu Bapa (Yahweh), yang dari pada-Nya berasal segala sesuatu dan yang untuk Dia kita hidup, dan satu Tuhan (lord, kurios, pemimpin) saja, yaitu Yesus Kristus, yang melaluinya (Inggris: through, Yunani: dia) segala sesuatu telah dijadikan dan yang karena dia kita hidup” – 1 Kor 8:5-6.


“Allah” dan “Tuhan”
Dalam Alkitab, jelas “Allah” tidak boleh sembarang disamakan dengan “Tuhan”. Kata “Allah” (elohim / theos) berarti mahluk ilahi atau sesembahan, sedangkan “Tu(h)an” (adonay / kurios) berarti seseorang yang berkuasa, atau pimpinan atau orang terhormat. Allah pasti Tu(h)an, tetapi Tu(h)an belum tentu Allah. Sesembahan pasti dihormati, tetapi orang yang kita hormati belum tentu kita sembah. Sekali lagi harus diingat betul, kata “Allah” dengan “Tuhan” di Alkitab bukanlah dua kata yang sepadan maknanya!
Nah, setelah bisa membedakan makna kata “Tuhan” dan “Allah” dalam perspektif Alkitab, sekarang kita bisa menelaah lebih jauh tentang makna ke-tuhan-an Yesus dalam Alkitab.

Apa kesaksian Alkitab perihal ke-tuhan-an Yesus?
Perkataan Yesus sendiri, tercatat dalam Yohanes 13:13:
“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan”. Di sini Yesus sendiri mengaku bahwa dia adalah Guru dan Tuhan bagi murid-muridnya. “Guru dan Tuhan” dalam Alkitab bahasa Inggris adalah “Master and Lord” (guru dan tuan). Guru adalah pengajar, Tuan adalah pemimpin.

Kisah 2:32,36:
Yesus inilah yang dibangkitkan Allah, dan tentang hal itu kami semua adalah saksi, … Jadi seluruh kaum Israel harus tahu dengan pasti, bahwa Allah telah membuat Yesus, yang kamu salibkan itu, menjadi Tuhan dan Kristus. (Alkitab terjemahan L.A.I)

There let all the house of Israel know assuredly that God has made this Jesus, whom you crucified, both Lord and Christ. (Acts 2:36, King James Version).

Alkitab di ayat itu sangat jelas mengatakan bahwa Allah (God) – lah yang menjadikan Yesus sebagai Tuhan (lord, pemimpin) dan Kristus. Allah (God) yang dimaksud di sini adalah Allahnya Israel yaitu Allah yang di kitab Taurat dikenal dengan nama YAHWEH. Jadi secara Alkitabiah, YAHWEH-lah yang mengangkat Yesus menjadi Tuhan (lord, pemimpin). Yesus menjadi Tuhan (lord, pemimpin) bukan atas kehendaknya sendiri, tetapi karena diangkat oleh Allah (Yahweh).
Ayat Kisah 2:36 dalam Alkitab RSTNE (Restoration Scriptures True Name Edition) menerjemahkan kata “Theos” (Allah) sebagai “Yahweh”, sedang kata “kurios kai kristos” (Tuhan dan Kristus) sebagai: “Melech and Moshiach” (makna artinya = “Raja dan Mesias/orang yang diurapi Allah”). Maka ketika membaca ayat tersebut, pembacanya akan langsung mendapat pemahaman yang sangat jelas sebab di situ dikatakan bahwa: Yahweh telah membuat Yesus menjadi Raja dan orang yang diurapi-Nya. Yesus oleh Yahweh diurapi menjadi juruselamat.
Yesus adalah Tuhan dan kristus, artinya Yesus adalah pemimpin dan orang yang diurapi menjadi juruselamat manusia, oleh Allah. Hal itu sama juga dengan yang tertulis dalam Kisah 5:31:
“… Dia (Yesus)-lah yang telah ditinggikan oleh Allah sendiri dengan tangan kanan-Nya menjadi pemimpin (Tuhan) dan juruselamat (kristus)…”
Allah menjadikan Yesus sebagai Tu(h)an (kurios) dan kristus (mesias, penyelamat manusia). Mesias secara fungsional memang adalah ‘pemimpin’, bandingkan Matius 23:10 “..hanya satu Pemimpinmu yaitu Mesias”. Mesias adalah Pemimpin! Memimpin orang kemana? Memimpin orang menuju kepada Allah (Yoh 14:6).
Kisah 2:22 “Yesus dari Nasaret, seorang yang ditentukan Allah dan yang dinyatakan kepadamu dengan kekuatan-kekuatan dan mujizat-mujizat dan tanda-tanda yang dilakukan oleh Allah dengan perantaraan dia di tengah-tengah kamu”. Yesus adalah “agen” (pekerja perantara) dari Allah untuk berkarya menyelamatkan manusia. Dalam karya penyelamatan, Allah adalah “tokoh utama” dan Yesus adalah “agen perantara” yang diutus Allah, maka sesuai yang tertulis dalam surat Yudas 25 mengatakan: “Allah yang Esa (Yahweh), Juru selamat kita melalui (through) Yesus Kristus, Tu(h)an (pemimpin, kurios) kita”. Artinya: Juruselamat/penebus yang sejati adalah Allah (Yahweh) yang Esa, namun Ia berkarya melalui orang yang diurapi-Nya (mesias-Nya) yaitu Yesus, utusan-Nya.

Yesus Kristus Jelas Bukan Allah Sejati (Yahweh)! Statement / ajaran / doktrin dari pendeta-pendeta (teolog-teolog) yang mengatakan bahwa Yesus Kristus adalah Allah Sejati atau Yahweh yang menjelma jadi manusia, itu jelas suatu statement yang sangat keliru. Kelirunya di mana?
Pertama, dari nama “YESUS KRISTUS” sebenarnya [kalau mau jujur], sudah cukup jelas nama tersebut merepresentasikan bahwa dia bukanlah Allah Sejati, sebab arti dan makna kata “KRISTUS” itu = “orang yang diurapi / disahkan / dilantik oleh Allah (Bapa / Yahweh)”. Yesus Kristus = Yesus yang diurapi oleh Allah (Bapa / Yahweh). Maka, karena Yesus “diurapi / disahkan / dilantik oleh Allah (Bapa)”, tentu dia bukanlah Allah (Yahweh) itu sendiri. Yesus adalah pribadi “yang diurapi / dilantik”, sedangkan Allah (Bapa / Yahweh) adalah “yang mengurapi / melantik”. Yesus adalah utusan, sedangkan Allah adalah “yang mengutus”.
Kalau Yesus dipandang sebagai Allah sejati, maka akan membuat nama (gelar) “Kristus” pada diri Yesus itu gugur maknanya, sebab “YESUS KRISTUS” = “YESUS YANG DIURAPI OLEH ALLAH”. Maka artinya: kalau andai kata benar “Yesus = Allah Sejati” maka nama Yesus Kristus akan menjadi bermakna sebagai “ALLAH SEJATI YANG DIURAPI OLEH ALLAH SEJATI”. Allah Sejati mengurapi Allah Sejati??? Jadi di sini akan ada 2 pribadi Allah sejati di mana Allah yang satu mengurapi / mengesahkan / mengutus Allah yang lain. Nah, pertanyaannya: Apakah benar adanya Allah sejati harus diurapi oleh Allah sejati yang lainnya? Kalau Allah sejati musti diurapi / dilantik / disahkan oleh Allah yang lain maka dengan sendirinya hal itu justru akan menggugurkan kesejatiannya!
Seperti ungkapan “masa jeruk minum jeruk?”, begitu pula mana ada “Allah sejati diurapi oleh Allah sejati?”. Artinya, dia (Yesus) yang diurapi (Kristus) itu jelas bukan Allah sejati adanya, sebab Allah sejati tidaklah perlu diurapi. Allah sejati tidak butuh pengurapan / pengesahan dari siapapun. Sedangkan Yesus, dia jelas-jelas mengalami ‘pengkristusan’ alias pengurapan / pengesahan / pelantikan dari Allah. Di sini jelas dia bukan Allah sejati! Dan lagi pula Alkitab tidak pernah menyatakan adanya lebih dari satu pribadi Allah sejati, apalagi tiga pribadi sebagaimana diajarkan oleh doktrin Tritunggal.
KRISTUS = DIURAPI / DISAHKAN OLEH ALLAH. Maka, YESUS KRISTUS = YESUS YANG DIURAPI / DISAHKAN OLEH ALLAH. Jelas Dia bukan Allah Sejati! Dari nama “Yesus Kristus” jelas terang benderang sudah dengan sendirinya membuktikan Dia bukan Allah sejati adanya. Dengan demikian, jika ada orang-orang yang ngotot mengklaim Yesus sebagai Allah sejati (Yahweh), sebenarnya mereka telah keliru fatal dan tidak layak menyebut Yesus sebagai Kristus. Tidak patut mereka menyebut Kristus, karena kata “Kristus” justru membuktikan secara langsung dan akurat maknanya bahwa dia bukan Allah sejati, melainkan utusan yang diurapi / disahkan oleh Allah. Kesimpulannya tegas: seorang Kristus jelas bukan Allah sejati! Kalau Yesus = Allah sejati, maka dia bukanlah Kristus!
Yang kedua. Hari ini banyak orang mengatakan: “Yesus adalah Allah sejati” atau “Yesus adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia”. Itu pandangan-pandangan banyak orang yang mengaku Kristen hari ini. Tetapi Saya tegaskan, bahwa sebenarnya orang yang berpandangan semacam itu bukan didasarkan pada Alkitab, melainkan semua itu hanya dihasilkan dari tradisi dan filsafat-filsafat hasil ide-ide pikiran manusia. Itu bukan ajaran Kristen sejati! Seorang Kristen sejati pasti mendasarkan segala ajarannya berdasar Alkitab. Sedangkan bagaimana dengan kesaksian Alkitab tentang siapa Yesus itu? Nah, mari kita lihat, untuk kasus ini, hal yang serupa tercatat sangat jelas di Matius 16:13-17 (baca di Alkitab anda):
Hari itu, di zaman itu, Yesus bertanya kepada orang-orang di sekitarnya kira-kira demikian: Hai sobat-sobat, bapak-bapak, ibu-ibu sekalian, menurut kamu dan menurut orang-orang siapakah aku? Maka orang-orang mulai menjawab dengan ide-ide cemerlang dan pemikirannya masing-masing. Ada yang bilang: “o… Yesus, engkau adalah Yohanes pembaptis”, yang lain berkata “engkau Elia”, “engkau Yeremia”, “engkau seorang dari para nabi”. Ada berbagai ide dan pendapat orang tentang SIAPA YESUS.
Nah, demikian juga kondisinya hari ini, di zaman ini, ketika membahas soal Yesus, ketika ada pertanyaan ‘Siapakah Yesus itu?’ Atau andai kata Yesus datang di zaman ini di hadapan kita, kemudian dia bertanya kepada kita: “Menurutmu siapakah aku?” maka kemungkinan akan banyak pendeta-pendeta dan orang-orang yang akan menjawab demikian:
“o.. Yesus, engkau adalah Allah sejati”
“Engkau adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia”
Seorang pendeta dengan idenya yang mempesona dan penuh karisma mungkin akan berkata:
“O Yesus, engkau Allah sejati yang karena begitu besar kasihmu akan dunia ini maka demi menyelamatkan manusia, maka bagaikan manusia yang mau menyelamatkan semut ia menjadi semut pula, Engkau Allah sejati rela turun dari surga menjadi manusia dan mati di kayu salib”
Sementara seorang pendeta terkenal penggagas doktrin Trinitas, mungkin akan berkata: ”Yesus engkau adalah pribadi kedua dalam Allah yang memiliki tiga pribadi Tritunggal!”.
Nah, benarkah jawaban-jawaban itu semua? Benarkah ide-ide pikiran yang mengatakan bahwa Yesus adalah pribadi ke-2 dari Allah yang tritunggal adanya? Benarkah ide pikiran yang mengatakan bahwa Yesus adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia? Benarkah jawaban-jawaban para teolog dan pendeta-itu sesuai dengan kesaksian Alkitab? Sekarang mari kita simak jawaban apakah yang paling tepat dan Alkitabiah untuk pertanyaan ‘Siapakah Yesus?’
Di Matius 16: 16, Simon berkata bahwa Yesus adalah MESIAS (KRISTUS). Yesus adalah Kristus, Yesus adalah seorang yang diurapi oleh Allah! Itu jawaban Simon. Dan apa komentar Yesus sendiri terhadap jawaban Simon tersebut? Ayat 17: “ …berbahagialah engkau Simon, sebab bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapaku yang di surga …” Di sini Yesus menegaskan bahwa yang menyatakan kepada Simon bahwa “Yesus itu adalah Mesias (Kristus)” adalah Bapa (Allah Yahweh) yang di surga.
Yesus adalah Mesias / Kristus. Yesus adalah seorang yang diurapi / dilantik oleh Allah, itu bukan pernyataan dari Simon atau manusia, bukan pula pernyataan dari pendeta-pendeta atau teolog-teolog atau filsuf-filsuf, bukan pernyataan dari professor atau doktor-doktor teologi, bahkan itu bukan pernyataan dari Yesus sendiri, tapi, itu adalah pernyataan dari Bapa (Allah) di surga! Allah sendirilah yang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias! Allah sendiri yang menyatakan bahwa Yesus adalah seorang yang diurapi (disahkan / dipilih / diutus) oleh Allah!
Dalam Injil Matius 16:15-17 ini, Alkitab bersaksi sangat jelas bahwa: tentang ‘Siapakah Yesus itu?’ Allah (Bapa / Yahweh) sendiri menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias (Utusan yang diurapi oleh Allah). Allah (Bapa / Yahweh) dalam Alkitab, tidak pernah menyatakan bahwa Yesus adalah Allah sejati yang menjelma menjadi manusia, tidak pernah! Tapi jelas-jelas Allah menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias (Kristus)! Allah (Bapa / Yahweh) tidak pernah menyatakan bahwa Yesus adalah pribadi ke-2 dari Allah Tritunggal, tidak pernah!!! Tapi Alkitab tegas berulang kali menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Yesus adalah utusan yang diurapi oleh Allah. Nah, kalau Bapa (Allah) sendiri menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias (orang yang diurapi oleh Allah), maka ajaran Tritunggal yang mengklaim Yesus adalah Allah sejati akan tampak jelas tidak sesuai kesaksian Alkitab. Doktrin Tritunggal jelas melompati kesaksian-kesaksian Alkitab!

Kesimpulan: Untuk memahami Alkitab dengan baik dan benar kita musti terlebih dulu paham istilah-istilah di dalamnya. Khususnya istilah “Tuhan” dan “Allah” dalam Alkitab, yang berbeda dengan kitab suci lainnya. Tanpa pemahaman yang tepat maka Alkitab akan terkesan membingungkan – kontradiksi – bahkan ada yang menganggap menyesatkan!

Untuk menjawab pertanyaan: Benarkah Yesus itu Tuhan?, pertanyaan ini bisa di jawab dari dua sudut pandang yang berbeda. Jawabannya akan tergantung dari sudut makna “Tuhan” yang dipahami oleh penanyanya. Pertanyaan tersebut bisa dijawab “benar”, bisa juga “tidak”.
Pertama, (Dijawab: Benar). Bagi orang-orang yang melihat dari perspektif Alkitab atau pandangan secara Alkitabiah, Benarkah Yesus itu Tuhan? akan terjawab: Ya benar! Yesus itu Tuhan (namun harus segera disusul dengan catatan penting bahwa “Tuhan” yang dimaksud adalah “lord” atau “adonay” atau “kurios” atau “tuan” atau “Pemimpin” alias “Bos”). Yesus itu Tuhan = Yesus itu pemimpin.
Kedua, (Dijawab: Tidak). Untuk pandangan orang umum yang menganggap bahwa kata “Tuhan” artinya = “Allah sejati” atau kata “TUHAN” dimaksud sebagai YAHWEH, maka pertanyaan Benarkah Yesus itu Tuhan? akan terjawab: Tidak, Yesus bukan “Tuhan / YAHWEH” melainkan Yesus itu “tuan” alias “pemimpin” yang datang sebagai utusan YAHWEH. Yesus adalah Tuan dan Mesias (orang yang diurapi) oleh Yahweh.

Penting juga dipahami betul, demikian juga ketika ada pertanyaan: Apakah Yesus itu Allah?. Jawabannya akan tergantung juga dari sudut pandang si penanya-nya, sebagai berikut:
Pertama, bagi orang-orang yang memandang dari perspektif Alkitab (dan tentunya mengacu pada istilah kata “Allah/elohim/theos” yang ada di Alkitab), Apakah Yesus itu Allah (elohim / theos)? Jawabannya adalah: Ya! Yesus adalah termasuk golongan “elohim” atau “theos” yang bermakna sebagai ‘Penerima dan Pembawa Firman’ (baca: Yohanes 10:35, Yohanes 1:1), yang begitu juga halnya dengan Musa sebagai “elohim” (baca: Keluaran 7:1), Hakim-hakim sebagai “elohim” (baca: Keluaran 21:6; 22:8-9), atau pun mahluk-mahluk surgawi yang juga disebut sebagai “para elohim” (baca: Mazmur 82:1 dan 6).
Kedua, bagi pandangan orang umum yang biasanya memaknai kata “Allah” dalam arti “Allah Sejati” (The true God) atau dengan maksud menunjuk pada “Satu-satunya Allah yang benar”, maka pertanyaan Apakah Yesus itu Allah? jawabannya jelas adalah: Bukan! Yesus bukan Allah Sejati, tetapi Yesus adalah utusan dari Allah yang sejati. Satu-satunya Allah yang benar (Allah sejati, The True God) adalah YAHWEH (atau Bapa), yaitu Allah yang mengutus Yesus, sebagaimana ada tertulis:
Inilah hidup yang kekal itu, mengenal Bapa (maksudnya: Yahweh) sebagai SATU-SATUNYA ALLAH YANG BENAR, dan mengenal Yesus Kristus utusan Allah (baca: Yohanes 17:3). Yesus sendiri bersaksi bahwa YAHWEH yang oleh Yesus disebut “Bapa” itu adalah Allahnya Yesus dan juga Allah kita (Yohanes 20:17b: “..Aku [Yesus] akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu” ).
YAHWEH adalah Allah segala allah, YAHWEH adalah elohim dari segala elohim (baca: Ulangan 10:17)
YAHWEH adalah Allah (elohim) yang benar (baca: Yeremia 10:10).


*Catatan Penting: baca Alkitab L.A.I bagian kamus (halaman belakang Alkitab anda, sebelum gambar Peta), pada entri kata “TUHAN” (T-U-H-A-N huruf besar) menjelaskan: kata “TUHAN” adalah salinan dari nama Allah Israel, yaitu Yahweh.

Kemudian soal adanya ayat-ayat Alkitab (yang sering ditafsirkan bahwa Yesus adalah Allah Sejati) yang biasanya menjadi bahan perdebatan antara penganut Trinitas dan AntiTrinitas, selengkapnya silahkan baca buku: MENJAWAB DOKTRIN TRITUNGGAL, Frans Donald, Borobudur Indonesia Publishing, 2007/2008.

Sumber Dan Penulis :
UNITARIAN

Selasa, 19 Agustus 2008

Jadwal Imsakiyah 1429 H

Jadwal Imsakiyah Untuk Wilayah Medan






JADWAL IMSAKIAH UNTUK WIB - WITA - WIT
Boleh Di Download Di Sini :

http://www.geocities.com/abey_cancer/JADWAL_IMSAKIAH_1429_WIB_WITA_WIT.xls

Selasa, 18 Desember 2007

WHAT HAPPENS WHEN A SOCIETY TURNS TO IDOLATRY?

A few signs let us better understand the "religion" of worshipping people pervading a society. Of these, the most basic is the heedless behavior exhibited by those who forget the existence of Allah and that He is with them at every moment. Instead of seeking Allah's favor, a person who adopts such a pattern of behavior blindly does what others ask of him-even if it is contrary to religious morality-and will be prepared to suffer every humiliation and degradation.

For example, some behave in a way contrary to the teaching of the Qur'an because they want certain others to accept them and be taken into their group. Though they know their behavior is wrong, still they are willing to do every sort of disgraceful thing to get others to like them. As a result, they experience pangs of conscience in this life and will be repaid for their insincerity in the life to come.

Such people think they are ingratiated themselves with others, but Allah knows their real intentions. They forget Allah, but He sees them every moment and knows what they conceal in their hearts. And though other people may hold positive views about them, Allah knows their insincerity.

For example, a person may see that his boss's moral character is corrupt, that he treats the poor and needy unjustly and has made the kind of profit forbidden by Allah. Yet for the sake of a promotion, this employee pretends not to notice his boss's behavior. He tries his best to make his boss think he is a loyal, hard worker and so he turns a blind eye to actions that Allah has forbidden. But Allah sees him, and knows everything he thinks and everything he says. He does nothing to win Allah's favor, but all the things he does to curry the approval of others is written down in the presence of Allah.In fact, those who think this way and seek to influence others in their own favor become like puppets. Others control their strings, and they carry out to the letter what is wanted of them, regardless of whether it is right or wrong, lawful or forbidden. In order to satisfy only a few worldly desires and selfish passions, they agree to become a part of a system that ignores Allah and cares nothing for earning His favor. They are ready to behave in ways that humiliate themselves and degrade their humanity; they live under others' control, without the human dignity that faith affords. As a result, they comprise a frightening group of people who are insincere, disrespectful and hypocritical towards others. They do not know what love really is and live only for their own gain. They lock themselves into a system where real friendship is absent and every relationship is based on profit. Within this system, have created with their own hands, they are-as Surat al-Isra' tells us-lonely and helpless, far from the mercy and assistance of Allah.

Do not set up any other god together with Allah and so sit there reviled and forsaken. (Surat al-Isra', 22)

Why do they turn to the idolatry of worshipping people? Some of the basic reasons can be listed as follows:

They Forget Allah and Want to Earn the Favor of Others

People who set up other idols beside Allah ignore His existence and absolute control over the universe. As a result of their heedless attitude, they think themselves autonomous. They believe that they can do whatever they want, live the kind of lives they desire according to their own plans; think that they have all total free will and that no one can interfere with them. They are rebels who accept no authority. They disregard the facts that everything is under the eternal power of Allah and that they are servants. They don't understand that the whole universe has a fate that Allah has determined for it and that no creature can escape its pre-ordained fate. As a result, they live their lives trying to fulfill their desires and passions in this world and forget about earning the favor of Allah.

In feeling irresponsible, however, they are quite wrong. Even though they may disregard Allah's existence, He is always with them. He sees everything they do and knows their eagerness to please others instead of Him. For example, He sees their efforts to show affection towards others in order to win their affection in return; and He sees the pains they take to persuade others to like them. The Qur'an tells us about the efforts of those to please others besides Him:

Some people set up equals to Allah, loving them as they should love Allah. But those who believe have greater love for Allah... (Surat al-Baqara, 165)

Such people work very hard to get the object of their affection to think that they really love and value him. But were they asked to show the same eagerness and determination towards Allah, they would refuse. For example, if asked to pray five times a day, they would most probably decline, making the excuse that they have little time to do this and cannot allot times for prayer in the course of a busy workday. They realize that if they did establish their prayers, none of their associates would appreciate them. In other words, according to his distorted view, fulfilling this act of worship would bring them no concrete benefits. Furthermore, they may be heedless only because they wouldn't want anyone to say that they have converted and turned to religion. As a result of such choices, they will earn the approbation and appreciation of a handful of people. On the other hand, they do not realize that by not fulfilling an act of worship that Allah has required of all His servants, they have lost His eternal love and mercy.

For this reason, Allah warns His servants in the Qur'an against the danger of neglecting to seek His pleasure and trying to please other people instead. The Qur'an says that He has commanded human beings to purify themselves from all kinds of idolatry and to turn to Him in prayer:

Turning towards Him. Fear Him and establish prayer. Do not be among the idolaters. (Surat ar-Rum, 31)

They Fear People More Than They Do Allah

To be terrified of some power or event often gives a person the will to perform many things in the very best way. The intensity of this fear leads a person to make unexpectedly clear decisions even if he feels inadequate to face the threat.

People with deep, intense fear in their hearts will do anything they have to. For example, a hungry person with no money will do everything he can to accept a job offer. He will not miss the opportunity, but beforehand, will try to learn about the rules of the company and the kind of people who work there. At his interview, he will take pains not to make any mistakes and to present himself well. He will be very respectful towards the interviewers to make sure that his personality and experience make a good impression; and will be careful not to say anything that conflicts with this. He will not lose his train of thought or act inappropriately. His urgent fears and anxieties for the future keep him alert. He will do everything to convince the company officials that he is just the person they need.

On the job, another individual will be very afraid of getting caught doing something that the owner of the company frowns on. He won't be late for work, make personal phone calls or do other such things not acceptable in the company. He also warns other workers to be careful about these rules and regulations. As a worker, he is afraid of being called undisciplined or lax, because such negative opinions may result in material loss and stand in the way of a good life in this world. Discipline in work and appropriate behavior are of course important, but the error lies in acting appropriately only out of fear of others. Such good behavior, determined only by a situation will not last. A person who doesn't fear Allah will easily do all matter of things contrary to His discipline, if he assumes his so doing will not raise any eyebrows.

For this reason, the individual who behaves appropriately should never forget the important fact that the only power to be feared is Allah. It is He Who has created and controls the people and events that he gets excited about, fears and whose importance he exaggerates. In Allah's sight, neither wealth nor power has any significance; all that is important is people's moral excellence and fear of Him. Moreover, people encounter only those events that are written in their destiny. If the man in our example was fated to take that job, no power apart from Allah's could change the course of events. No matter how many errors or mistakes he might make, that person is accepted for that job if Allah has determined it. But if his fate has been determined otherwise, he won't land that job, no matter what efforts he puts forth, because he cannot avoid the fate that Allah has determined for him.

The Qur'an says that all events happen with Allah's knowledge:

Nothing occurs, either in the Earth or in yourselves, without its being in a Book before We make it happen. That is something easy for Allah. (Surat al-Hadid, 22)

Always remember, this individual in our example may die before he can take that job. In that case, the worldly fears he has experienced all his life and the autonomy he has imputed to other people would have no further meaning. All his efforts will have been in vain. On the Day of Judgment, none of those whose opinions he valued so highly will be of any support to him. As a punishment for neglecting to win Allah's favor throughout his life and trying to please other people instead, he will spend not a thousand-not ten thousand, not a million or even a billion years, unless otherwise willed by Allah-but an eternity suffering the pangs of Hell. If he doesn't repent and ask Allah's forgiveness in his lifetime, for his sins and evil deeds Allah will condemn him to live in Hell for all eternity.

Our Prophet's (saas) advice to the faithful further explains the importance of fear of Allah and repentance:

O Muadh, I give you instruction: Fear Allah while passing by each stone, tree, and heaps of Earth. Make repentance anew after committing any sin. Repent secretly for secret sin and openly for open sin. (Imam Ghazzali, Ihya Ulum-Id-Din (The Book of Religious Learnings), Islamic Book Service, New Delhi, 2001, Volume II, p. 236)

So, when we think about these realities, we can more easily understand that the fear of Allah is much more important than all these other fears. The Qur'an speaks about this great reality in these words:

… So fear Allah. And know that you will be gathered back to Him. (Surat al-Baqara, 203)