Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Biografi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 06 September 2012

Kata-kata Unik Para Tokoh Terkenal


Entah apa maksud para tokoh terkenal ini yang jelas inilah kata-kata unik yang pernah diucapkan dari bibir mereka yang masih terngiang hingga kini. Kontroversi, bijak atau unik? Lets see:
Ir. Soekarno, Presiden Pertama RI :
Dalam sebuah revolusi, bapak makan anak itu adalah hal yang lumrah.
Soeharto, Presiden Kedua RI :
Siapa saja yang mencoba melawan, akan saya gebuki.
Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Negarawan, Ulama, Presiden ke-4 RI :
Tergantung pemerintah. Kalau pemerintah campur tangan terus dalam segala hal yang terjadi, adalah kami tidak ada jalan lain adalah membisikkan pada para pemilih golput aja bareng-bareng.

Selasa, 07 Agustus 2012

Nabi Adam: Pemimpin Yang Berani Mengakui Kesalahan

Keduanya berkata: "Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi”. (Q.S. al-A’raf ayat 23).

Berani mengakui kesalahan adalah salah satu karakteristik yang paling menonjol dalam kepemimpinan Nabi Adam. Pengakuan ini tercermin dari ungkapannya kepada Allah "kami telah menzalimi diri kami” ketika terjadi pelanggaran terhadap ketentuan yang dilakukan oleh Allah yaitu untuk tidak mendekati sebatang pohon. Untuk ukuran zaman sekarang, pengakuan yang seperti ini sangat langka dijumpai di kalangan para pemimpin. Bahkan yang terjadi adalah sebaliknya yaitu berupaya menutupnutupi kesalahan dimaksud. Kemudian pengakuan ini baru muncul ketika yang bersangkutan sudah tidak dapat mengelak dari buktibukti yang dikemukakan.

Cara pengakuan yang dilakukan oleh Nabi Adam mutlak didasari oleh nilainilai keikhlasan, karena Nabi Adam pada waktu itu tidak berupaya untuk menghilangkan alat-alat bukti. Dan adapun pengakuan dari sebagian pemimpin untuk saat ini lantaran tidak dapat mengelak dari buktibukti yang dituduhkan, dan oleh karena itu, pengakuan mereka diduga didasari oleh nilainilai keterpaksaan. Ada hal yang sangat menarik dari kepemimpinan Nabi Adam dimana kondisi yang dihadapinya tidak jauh berbeda dengan kondisi perpolitikan yang ada sekarang ini seperti kebebasan memberikan pendapat, koalisi dan oposisi. Bila pada masa sekarang dijumpai istilahistilah tersebut maka pada masa Nabi Adampun format yang seperti ini sudah pernah dijumpai.

Contohcontoh dari format di atas ialah para malaikat yang memberikan kritikan kepada Nabi Adam adalah cerminan dari kebebasan berpendapat. Adapun kemudian mereka berkoalisi dengan Nabi Adam karena logisnya argumentasi yang dikemukakan oleh Allah sehingga mereka tidak mampu membantahnya. Selain itu koalisi yang dibangun oleh malaikat ini adalah koalisi yang didasarkan kepada idealis bukan didasarkan kepada kepentingan. Adapun Iblis, secara terus terang mengambil sikap oposisi dan inipun dibiarkan karena sikap yang seperti ini adalah haknya Iblis. Akan tetapi Allah menilai bahwa sikap yang diambil oleh Iblis ini adalah salah, karena oposisi yang dibangunnya adalah oposisi yang tidak sehat. Selain argumentasinya tidak logis juga motif oposisinya adalah untuk membunuh karakter Nabi Adam. Sekiranya oposisi Iblis ini hanya sekadar untuk penyeimbang, maka kuat dugaan bahwa langkah oposisi yang diambilnya tidaklah termasuk sesuatu yang dilarang.

Liku-liku Kepemimpinan Nabi Adam

Nabi Adam sekalipun sudah direncankan oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi, namun bukan berarti bahwa jabatan ini langsung saja diserahkan kepada Nabi Adam. Sebelum Nabi Adam mendapatkan jabatan khalifah, maka terlebih dahulu diadakan semacam fit and proper test yaitu tes kelayakan apakah Nabi Adam adalah sosok yang tepat untuk memangku jabatan dimaksud atau tidak.

Sebelum menghadapi fit and proper test ini, maka Nabi Adam terlebih dahulu dibekali dengan seperangkat ilmu pengetahuan sehingga hampir tidak ada yang tidak diketahuinya. Hasil "rekaman” Nabi Adam terhadap ilmuilmu ini ditandingkan kembali dengan malaikat, dan ternyata Nabi Adam berhasil melewati tes dimaksud. Hal yang paling menakjubkan dari kejadian ini adalah bahwa Nabi Adam dapat mengalahkan reputasi malaikat sehingga membuat mereka "angkat tangan” kepada Nabi Adam. Keberhasilan Nabi Adam ini diangkat Allah kepermukaan dengan menyuruh para malaikat untuk "sujud” kepadanya. Demikian cara Allah untuk mempublikasikan Nabi Adam supaya jabatan yang akan diserahkan tidak mengundang protes dari malaikat. Sebagaimana diceritakan, bahwa malaikat pernah melakukan protes tentang kelayakan Nabi Adam untuk diangkat memangku jabatan khalifah.
Para malaikat melakukan "sujud” kepada Nabi Adam kecuali Iblis dengan alasan bahwa dirinya jauh lebih baik dan terhormat bila dibanding dengan Adam, karena Adam diciptakan dari tanah sementara dirinya diciptakan dari api. Alasan Iblis ini ditolak oleh Allah karena faktor asal kejadian tidak ada relevansinya dengan jabatan khalifah. Dengan kata lain, faktor keberhasilan dalam memimpin tidak ada kaitannya dengan asal kejadian karena faktor ini hanya bersifat kebetulan dan pengaruhnyapun nihil. Dalam tataran ini Allah hanya ingin menunjukkan bahwa kemimpinan yang baik adalah kepemimpinan yang dilandasi oleh pengetahuan bukan karena faktor asal kejadian. Sekalipun Nabi Adam telah lulus secara total dalam menghadapi fit and proper test, namun jabatan khalifah belum juga langsung diberikan kepadanya. Dalam beberapa masa, Nabi Adam "dikarantinakan” terlebih dahulu di dalam "surga” sebagai training terakhir. Dalam masa training ini ada satu hal yang tidak boleh dilakukan Nabi Adam yaitu mendekati pohon "khuldi” (istilah halus al-Qur`an dalam mengungkapkan hubungan seksual).

Pantangan dalam training terakhir ini gagal dipertahankan oleh Nabi Adam akibat termakan bujuk rayu Iblis. Padahal, jauh hari sebelumnya sudah diberitahukan kepada Nabi Adam bahwa Iblis adalah musuh bebuyutannya, dan sekaligus juga sebagai rivalnya. Akibat dari pelanggaran ini, maka Nabi Adam dituduh oleh Allah sebagai makhluk yang durhaka dan sesat. Menyadari akan kekeliruannya ini, maka Nabi Adam mebari menyatakan bahwa dia dan isterinya telah menzalimi diri mereka sendiri. Pengakuan ini menunjukkan bahwa Nabi Adam adalah seorang gentleman yang berani mengakui kesalahankesalahan yang dilakukannya. Kesalahan yang dilakukan oleh Nabi Adam dianggapnya sebagai tindakan kezaliman, meskipun kezaliman yang dia lakukan hanyalah untuk dirinya sendiri tanpa mengorbankan orang lain. Oleh karena itu, tingkat menzalimi diri sendiripun Allah sudah murka terlebih lagi jika kezaliman yang dilakukan dapat mengorbankan orang lain.

Adapun pelajaran yang paling berharga dari kepemimpinan Nabi Adam ini ialah keberaniannya mengakui kesalahan tanpa membabitkan (melibatkan) pihak-pihak lain. Pengakuan Nabi Adam ini menunjukkan bahwa dia sangat koperatif dan siap menerima segala konsekwensi dari kesalahan yang dilakukannya. Keberanian untuk mengakui kesalahan seperti yang dilakukan oleh Nabi Adam adalah yang paling langka bagi para pemimpin saat ini. Nabi Adam ini ialah sifatnya yang tidak sombong dan sangat merendahkan diri. Padahal kelemahan yang dimilikinya hanya sekelumit bila dibanding dengan kelebihan yang dimilikinya. Akan tetapi sebagai pemimpin yang benar-benar bertanggung jawab, maka Nabi Adam sama sekali tidak pernah menunjukkan kelebihannya di hadapan Allah bahkan yang diungkapkannya adalah kelemahan dirinya sehingga terperangkap untuk melakukan kesalahan.

Penutup

Melihat karakteristik kepemimpinan Nabi Adam di atas maka sangat wajar jika malaikat tidak pernah menarik dukungan mereka kepada Nabi Adam dan bahkan mereka tetap setia untuk berkoalisi dengannya. Oleh karena itu, jika terdapat sosok calon pemimpin yang memiliki karakteristik yang hampir sama dengan Nabi Adam maka wajib untuk dipilih dan diikuti, dan orang-orang yang tidak mau memilihnya berarti telah berkoalisi pula dengan Iblis.

Minggu, 18 Desember 2011

Pelukis Basuki Abdullah (1915-1993)



Basoeki Abdullah lahir di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 27 Januari 1915. Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya Abdullah Suryosubroto yang juga seorang pelukis. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basoeki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krisnamurti.

Lukisan Basuki Abdullah yang berjudul “Kakak dan Adik”, 1978 ini merupakan salah satu karyanya yang menunjukkan kekuatan penguasaan teknik realis. Dengan pencahayaan dari samping, figur kakak dan adik yang dalam gendongan terasa mengandung ritme drama kehidupan. Dengan penguasaan proporsi dan anatomi, pelukis ini menggambarkan gerak tubuh mereka yang mengalunkan perjalanan sunyi.

Suasana itu, seperti ekspresi wajah mereka yeng jernih tetapi matanya menatap kosong. Apalagi pakaian mereka yang bersahaja dan berwarna gelap, sosok kakak beradik ini dalam selubung keharuan. Dari berbagai fakta tekstual ini, Basuki Abdullah ingin mengungkapkan empatinya pada kasih sayang dan kemanusiaan.

Namun demikian, spirit keharuan kemanusiaan dalam lukisan ini tetap dalam bingkai romantisisme.Oleh karena itu, figur kakak beradik lebih hadir sebabagi idealisme dunia utuh atau bahkan manis, daripada ketajaman realitas kemanusiaan yang menyakitkan. Pilihan konsep estetis yang demikian dapat dikonfirmasikan pada semua karya Basuki Abdullah yang lain. Dari beberapa mitologi, sosok-sosok tubuh yang telanjang, sosok binata, potret-potret orang terkenal, ataupun hamparan pemandangan, walaupun dibangun dengan dramatisasi namun semua hadir sebagai dunia ideal yang cantik dengan penuh warna dan cahaya.

Berkaitan dengan konsep estetik tersebut, Basuki Abdullah pernah mendapat kritikan tajam dari Sudjojono. Lukisan Basuki Abdullah dikatakan sarat dengan semangat Mooi Indie yang hanya berurusan dengan kecantikan dan keindahan saja. Padahal pada masa itu, bangsa Indonesia sedanf menghadapi penjajahan, sehingga realitas kehidupannya sangat pahit. Kedua pelukis itu sebenarnya memang mempunyai pandangan estetik yang berbeda, sehingga melahirkan cara pengungkapan yang berlainan. Dalam kenyataan estetik Basuki Abdullah yang didukung kemampuan teknik akademis yang tinggi tetap menempatkannya sebagai pelukis besar.

Hal itu terbukti berbagai penghargaan yang diperoleh, juga dukungan dari masyarakat bawah sampai kelompok elite di istana, dan juga kemampuan bertahan karya-karyanya eksis menembus berbagai masa.

Kakak dan Adik (1978)

Basoeki Abdullah lahir di Solo, Jawa Tengah pada tanggal 27 Januari 1915. Bakat melukisnya terwarisi dari ayahnya Abdullah Suryosubroto yang juga seorang pelukis. Sedangkan kakeknya adalah seorang tokoh Pergerakan Kebangkitan Nasional Indonesia pada awal tahun 1900-an yaitu Doktor Wahidin Sudirohusodo. Sejak umur 4 tahun Basoeki Abdullah mulai gemar melukis beberapa tokoh terkenal diantaranya Mahatma Gandhi, Rabindranath Tagore, Yesus Kristus dan Krisnamurti.

Pendidikan formal Basoeki Abdullah diperoleh di HIS Katolik dan Mulo Katolik di Solo. Berkat bantuan Pastur Koch SJ, Basoeki Abdullah pada tahun 1933 memperoleh beasiswa untuk belajar di Akademik Seni Rupa (Academic Voor Beldeende Kunsten) di Den Haag (Belanda) dan menyelesaikan studinya dalam waktu 3 tahun dengan meraih penghargaan Sertifikat Royal International of Art (RIA).

Pada masa Pemerintahan Jepang, Basoeki Abdullah bergabung dalam Gerakan Poetra atau Pusat Tenaga Rakyat yang dibentuk pada tanggal 19 Maret 1943. Di dalam Gerakan Poetra ini Basoeki Abdullah mendapat tugas mengajar seni lukis. Murid-muridnya antara lain Kusnadi (pelukis dan kritikus seni rupa Indonesia) dan Zaini (pelukis impresionisme). Selain organisasi Poetra, Basoeki Abdullah juga aktif dalam Keimin Bunka Sidhosjo (sebuah Pusat Kebudayaan milik pemerintah Jepang) bersama-sama Affandi, S.Sudjoyono, Otto Djaya dan Basoeki Resobawo.

Di masa revolusi Bosoeki Abdullah tidak berada di tanah air yang sampai sekarang belum jelas apa yang melatarbelakangi hal tersebut. Jelasnya pada tanggal 6 September 1948 bertempat di New York Amsterdam sewaktu penobatan Ratu Yuliana dimana diadakan sayembara melukis, Basoeki Abdullah berhasil mengalahkan 87 pelukis Eropa dan berhasil keluar sebagai pemenang.

Sejak itu pula dunia mulai mengenal Basoeki Abdullah, putera Indonesia yang mengharumkan nama Indonesia. Selama di negeri Belanda Basoeki Abdullah sering kali berkeliling Eropa dan berkesempatan pula memperdalam seni lukis dengan menjelajahi Italia dan Perancis dimana banyak bermukim para pelukis dengan reputasi dunia.

Basoeki Abdullah terkenal sebagai seorang pelukis potret, terutama melukis wanita-wanita cantik, keluarga kerajaan dan kepala negara yang cenderung mempercantik atau memperindah seseorang ketimbang wajah aslinya. Selain sebagai pelukis potret yang ulung, diapun melukis pemandangan alam, fauna, flora, tema-tema perjuangan, pembangunan dan sebagainya.

Basoeki Abdullah banyak mengadakan pameran tunggal baik di dalam negeri maupun di luar negeri, antara lain karyanya pernah dipamerkan di Bangkok, Malaysia, Jepang, Belanda, Inggris, Portugis dan negara-negara lain. Lebih kurang 22 negara yang memiliki karya lukisan Basoeki Abdullah. Hampir sebagian hidupnya dihabiskan di luar negeri diantaranya beberapa tahun menetap di Thailand dan diangkat sebagai pelukis istana dan sejak tahun 1974 Basoeki Abdullah menetap di Jakarta.

Makam Basoeki AbdullahBasoeki Abdullah selain seorang pelukis juga pandai menari dan sering tampil dengan tarian wayang wong sebagai Rahwana atau Hanoman. Beliau tidak hanya menguasai soal kewayangan, budaya Jawa di mana ia berasal tetapi juga menggemari komposisi-kompasisi Franz Schubert, Bethoven dan Paganini, dengan demikian wawasannya sebagai seniman luas dan tidak Jawasentris.

Basoeki Abdullah menikah empat kali. Istri pertamanya Yoshepin (orang Belanda) tetapi kemudian berpisah, mempunyai anak bernama Saraswati. Kemudian menikah lagi dengan Maya Michel (berpisah) dan So Mwang Noi (bepisah pula). Terakhir menikah dengan Nataya Narerat sampai akhir hayatnya dan mempunyai anak Cicilia Sidhawati

Basoeki Abdullah meningal dunia di rumah kediamannya pada tanggal 5 November 1993. Jenasahnya dimakamkan di Desa Mlati Sleman, Yogyakarta.

Sabtu, 17 Desember 2011

Bung Tomo, Seorang Pemimpin Revolusi Indonesia



Sutomo (lahir di Surabaya, Jawa Timur, 3 Oktober 1920 – meninggal di Padang Arafah, Arab Saudi, 7 Oktober 1981 pada umur 61 tahun) lebih dikenal dengan sapaan akrab oleh rakyat sebagai Bung Tomo, adalah pahlawan yang terkenal karena peranannya dalam membangkitkan semangat rakyat untuk melawan kembalinya penjajah Belanda melalui tentara NICA, yang berakhir dengan pertempuran 10 November 1945 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Sutomo dilahirkan di Kampung Blauran, di pusat kota Surabaya. Ayahnya bernama Kartawan Tjiptowidjojo, seorang kepala keluarga dari kelas menengah. Ia pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan, sebagai staf pribadi di sebuah perusahaan swasta, sebagai asisten di kantor pajak pemerintah, dan pegawai kecil di perusahan ekspor-impor Belanda. Ia mengaku mempunyai pertalian darah dengan beberapa pendamping dekat Pangeran Diponegoro yang dikebumikan di Malang. Ibunya berdarah campuran Jawa Tengah, Sunda, dan Madura. Ayahnya adalah seorang serba bisa. Ia pernah bekerja sebagai polisi di kotapraja, dan pernah pula menjadi anggota Sarekat Islam, sebelum ia pindah ke Surabaya dan menjadi distributor lokal untuk perusahaan mesin jahit Singer.

Sutomo dibesarkan di rumah yang sangat menghargai pendidikan. Ia berbicara dengan terus terang dan penuh semangat. Ia suka bekerja keras untuk memperbaiki keadaan. Pada usia 12 tahun, ketika ia terpaksa meninggalkan pendidikannya di MULO, Sutomo melakukan berbagai pekerjaan kecil-kecilan untuk mengatasi dampak depresi yang melanda dunia saat itu. Belakangan ia menyelesaikan pendidikan HBS-nya lewat korespondensi, namun tidak pernah resmi lulus.

Sutomo kemudian bergabung dengan KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). Belakangan Sutomo menegaskan bahwa filsafat kepanduan, ditambah dengan kesadaran nasionalis yang diperolehnya dari kelompok ini dan dari kakeknya, merupakan pengganti yang baik untuk pendidikan formalnya. Pada usia 17 tahun, ia menjadi terkenal ketika berhasil menjadi orang kedua di Hindia Belanda yang mencapai peringkat Pandu Garuda. Sebelum pendudukan Jepang pada 1942, peringkat ini hanya dicapai oleh tiga orang Indonesia.

Sutomo pernah menjadi seorang jurnalis yang sukses. Kemudian ia bergabung dengan sejumlah kelompok politik dan sosial. Ketika ia terpilih pada 1944 untuk menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru yang disponsori Jepang, hampir tak seorang pun yang mengenal dia. Namun semua ini mempersiapkan Sutomo untuk peranannya yang sangat penting, ketika pada Oktober dan November 1945, ia berusaha membangkitkan semangat rakyat sementara Surabaya diserang habis-habisan oleh tentara-tentara NICA. Sutomo terutama sekali dikenang karena seruan-seruan pembukaannya di dalam siaran-siaran radionya yang penuh dengan emosi.

Meskipun Indonesia kalah dalam pertempuran 10 November itu, kejadian ini tetap dicatat sebagai salah satu peristiwa terpenting dalam sejarah Indonesia.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Sutomo sempat terjun dalam dunia politik pada tahun 1950-an, namun ia tidak merasa bahagia dan kemudian menghilang dari panggung politik. Pada akhir masa pemerintahan Soekarno dan awal pemerintahan Suharto yang mula-mula didukungnya, Sutomo kembali muncul sebagai tokoh nasional.

Padahal, berbagai jabatan kenegaraan penting pernah disandang Bung Tomo. Ia pernah menjabat Menteri Negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 di era Kabinet Perdana Menteri Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga tercatat sebagai anggota DPR pada 1956-1959 yang mewakili Partai Rakyat Indonesia.

Namun pada awal 1970-an, ia kembali berbeda pendapat dengan pemerintahan Orde Baru. Ia berbicara dengan keras terhadap program-program Suharto sehingga pada 11 April 1978 ia ditahan oleh pemerintah Indonesia yang tampaknya khawatir akan kritik-kritiknya yang keras. Baru setahun kemudian ia dilepaskan oleh Suharto. Meskipun semangatnya tidak hancur di dalam penjara, Sutomo tampaknya tidak lagi berminat untuk bersikap vokal.

Ia masih tetap berminat terhadap masalah-masalah politik, namun ia tidak pernah mengangkat-angkat peranannya di dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia. Ia sangat dekat dengan keluarga dan anak-anaknya, dan ia berusaha keras agar kelima anaknya berhasil dalam pendidikannya.

Sutomo sangat bersungguh-sungguh dalam kehidupan imannya, namun tidak menganggap dirinya sebagai seorang Muslim saleh, ataupun calon pembaharu dalam agama. Pada 7 Oktober 1981 ia meninggal dunia di Padang Arafah, ketika sedang menunaikan ibadah haji. Berbeda dengan tradisi untuk memakamkan para jemaah haji yang meninggal dalam ziarah ke tanah suci, jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya.

Setelah pemerintah didesak oleh Gerakan Pemuda (GP) Ansor dan Fraksi Partai Golkar (FPG) agar memberikan gelar pahlawan kepada Bung Tomo pada 9 November 2007. Akhirnya gelar pahlawan nasional diberikan ke Bung Tomo bertepatan pada peringatan Hari Pahlawantanggal 10 November 2008. Keputusan ini disampaikan oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Kabinet Indonesia Bersatu, Muhammad Nuhpada tanggal 2 November 2008 di Jakarta.

Pada tahun 1950-an di Surabaya, Bung Tomo berusaha sebagai penolong tukang becak pertama yakni dengan mendirikan pabrik sabun melalui uang iuran tukang becak untuk pendirian pabrik sabun. pabrik tersebut didirikan oleh dan untuk tukang becak akan tetapi kelanjutan ide pendirian pabrik sabun berhasil nihil dan tanpa adanya pertanggungan-jawaban keuangan.

Penemu Obat Kanker yang Cinta Papua


Tak semua orang mengenal Maria D Sawias van Der Molen. Sosoknya sederhana dan tak berbeda dengan ibu rumah tangga kebanyakan. Tapi jasanya bagi para penderita kanker luar biasa. Rasa cintanya pada tanah kelahiran di Papua juga sangat istimewa.

Maria adalah salah seorang penerima penghargaan dari Kementerian Hukum dan HAM di bidang paten. Dia dipilih karena berhasil mematenkan temuannya, yakni obat kanker herbal.

“Ibu Maria menemukan obat kanker yang sudah teruji bisa menyembuhkan,” kata pembawa acara pemberian penghargaan, Robby, di kantor Kemenkum HAM, Jl HR Rasuna Said, Kuningan, Senin (31/10/2011). Penghargaan pun disematkan langsung oleh Menkum HAM Amir Syamsuddin.

Ditemui usai acara serah terima penghargaan, Maria yang tampil dengan baju biru ini tampak malu-malu menceritakan kisah temuannya. “Obat yang saya temukan ini sejenis benalu. Sebenarnya sudah lama digunakan di Papua. Kita-kita ini yang di pesisir yang pakai,” tutur Maria.

Menurut wanita yang berprofesi sebagai dokter spesialis herbal ini, temuan obatnya sudah digunakan sejak tahun 1972. Namun baru didaftarkan paten di Kemenkum HAM tahun ini.

Sementara obatnya sudah teruji pada pasien kanker hingga stadium tiga. Dari 10 pasien yang berobat, Maria mengklaim 8 diantaranya sembuh total. “Itu dengan lama pengobatan rata-rata 3 bulan. Tergentung stadiumnya,” ucapnya.

Ada kisah menarik yang dialami istri warga keturunan Belanda ini. Hak patennya sempat ditawar oleh peneliti Oxford University senilai 2 juta Poundsterling. Namun jumlah tersebut ditolaknya. “Saya tolak. Kalau nanti mereka obok-obok Papua bagaimana? Ini semua demi anak cucu saya di Papua. Mereka dapat apa dong?” sambungnya.

“Ini kita akan produksi massal, mau kerjakan ini supaya subsidi silang. Bantu orang di dalam negeri yang tidak mampu, kalau orang luar yang kita ekspor yang bayar,” kisah Maria.

Bung Hatta & Sepatu Bally yang Tak Pernah Terbeli



Dandanan mentereng, rumah, dan mobil mewah agaknya sudah menjadi gaya hidup para pejabat saat ini. Masyarakat pun kembali merindukan figur-figur pemimpin yang sederhana dan pantas untuk dijadikan teladan.

Suatu hari, di tahun 1950, Wakil Presiden Muhammad Hatta pulang ke rumahnya. Begitu menginjakkan kaki di rumah, ia langsung ditanya sang istri, Ny Rahmi Rachim, tentang kebijakan pemotongan nilai mata ORI (Oeang Republik Indonesia) dari 100 menjadi 1.

Pantas saja hal itu ditanyakan, sebab, Ny Rahmi tidak bisa membeli mesin jahit yang diidam-idamkannya akibat pengurangan nilai mata uang itu. Padahal, ia sudah cukup lama menabung untuk membeli mesih jahit baru. Tapi, apa kata Bung Hatta?

“Sunggguhpun saya bisa percaya kepadamu, tetapi rahasia ini tidak patut dibocorkan kepada siapa pun. Biarlah kita rugi sedikit, demi kepentingan seluruh negara. Kita coba menabung lagi, ya?” jawab Bung Hatta.

Kisah mesin jahit itu merupakan salah satu contoh dari kesederhanaan hidup proklamator RI Bung Hatta (1902-1980) dan keluarganya. Sejak kecil, Bung Hatta sudah dikenal hemat dan suka menabung. Akan tetapi, uang tabungannya itu selalu habis untuk keperluan sehari-hari dan membantu orang yang memerlukan.

Saking mepetnya keuangan Bung Hatta, sampai-sampai sepasang sepatu Bally pun tidak pernah terbeli hingga akhir hayatnya. Tidak bisa dibayangkan, seorang yang pernah menjadi nomor 2 di negeri ini tidak pernah bisa membeli sepasang sepatu. Mimpi itu masih berupa guntingan iklan sepatu Bally yang tetap disimpannya dengan rapi hingga wafat pada 1980.

Bung Hatta baru menikah dengan Ny Rahmi 3 bulan setelah memproklamasikan kemerdekaan RI bersama Bung Karno atau tepatnya pada 18 November 1945. Saat itu, ia berumur 43 tahun. Apa yang dipersembahkan Bung Hatta sebagai mas kawin? Hanya buku “Alam Pikiran Yunani” yang dikarangnya sendiri semasa dibuang ke Banda Neira tahun 1930-an.

Setelah mengundurkan diri dari jabatan Wapres pada tahun 1956, keuangan keluarga Bung Hatta semakin kritis. Uang pensiun yang didapatkannya amat kecil. Dalam buku “Pribadi Manusia Hatta, Seri 1,” Ny Rahmi menceritakan, Bung Hatta pernah marah ketika anaknya usul agar keluarga menaruh bokor sebagai tempat uang sumbangan tamu yang berkunjung.

Ny Rahmi mengenang, Bung Hatta sauatu ketika terkejut menerima rekening listrik yang tinggi sekali. “Bagaimana saya bisa membayar dengan pensiun saya?” kata Bung Hatta. Bung Hatta mengirim surat kepada Gubernur DKI Ali Sadikin agar memotong uang pensiunnya untuk bayar rekening listrik. Akan tetapi, Pemprov DKI kemudian menanggung seluruh biaya listrik dan PAM keluarga Bung Hatta.

Bung Hatta adalah pendiri Republik Indonesia, negarawan tulen, dan seorang ekonom yang handal. Di balik semua itu, ia juga adalah sosok yang rendah hati. Sifat kesederhanaannya pun dikenal sepanjang masa. Musisi Iwan Fals mengabadikan kepribadian Bung Hatta itu dalam sebuah lagu berjudul “Bung Hatta”.

Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu